Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Rabi’ul Awwal dan Übermensch Sejati: Ketika Kesempurnaan Telah Tersurat Sebelum Penciptaan, Bukan Diciptakan dari Kehendak untuk Berkuasa

Avatar photo
19
×

Rabi’ul Awwal dan Übermensch Sejati: Ketika Kesempurnaan Telah Tersurat Sebelum Penciptaan, Bukan Diciptakan dari Kehendak untuk Berkuasa

Share this article
Rabi'ul Awwal dan Übermensch Sejati: Ketika Kesempurnaan Telah Tersurat Sebelum Penciptaan, Bukan Diciptakan dari Kehendak untuk Berkuasa
Rabi'ul Awwal dan Übermensch Sejati: Ketika Kesempurnaan Telah Tersurat Sebelum Penciptaan, Bukan Diciptakan dari Kehendak untuk Berkuasa

Friedrich Nietzsche, dalam magnum opus-nya Also Sprach Zarathustra, mewartakan sebuah gagasan yang mengguncang fondasi filsafat Barat: Übermensch, manusia unggul yang telah melampaui moralitas budak (Sklavenmoral), menciptakan tabel nilainya sendiri, dan berdiri tegak di atas reruntuhan Tuhan yang dinyatakannya telah “mati” dalam kesadaran modern. Bagi Nietzsche, kebesaran sejati lahir dari kehendak untuk berkuasa (Will to Power) dorongan primordial untuk menaklukkan diri sendiri, menembus batas-batas moralitas konvensional, dan berdiri sendiri tanpa sandaran apa pun yang bersifat transenden. Manusia unggul, dalam pandangannya, adalah ia yang berani menanggung beban eksistensi tanpa Tuhan, menciptakan makna dari kekosongan, dan menjadi legislator bagi dirinya sendiri.

Gagasan ini memesona sekaligus problematik. Ia memesona karena menawarkan cita-cita tentang manusia yang mengatasi keterbatasan dirinya; problematik karena, tanpa sandaran transenden, kehendak untuk berkuasa pada akhirnya rentan terjerumus pada relativisme nilai. Maka, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah sekadar “siapa manusia unggul itu?”, melainkan “unggul menurut kriteria apa, dan menuju arah mana?” Jika kita menelusuri kembali panggung sejarah kemanusiaan dengan pertanyaan ini, adakah sosok yang benar-benar memenuhi definisi manusia yang melampaui manusia, bukan dalam pengertian Nietzschean yang nihilistik, melainkan dalam pengertian yang hakiki: manusia yang mengatasi hawa nafsunya sendiri, menciptakan peradaban dari kehampaan sejarah, dan mengubah wajah dunia tanpa menumpahkan darah demi ambisi pribadi? Rabi’ul Awwal, bulan kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah jawaban yang ditawarkan oleh tradisi keilmuan Islam atas pertanyaan tersebut.

Para ulama turas – di antaranya Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya yang masyhur, Lathā’if al-Ma’ārif – mencatat sebuah keterangan penting yang bersandar pada riwayat hadis: kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tertulis dalam Ummul Kitab (Induk Catatan Takdir) bahkan sebelum Adam ‘alaihissalam sempurna diciptakan sebagai manusia hidup. Dalam riwayat yang dikeluarkan Imam Ahmad dari sahabat al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda bahwa beliau telah tercatat sebagai penutup para nabi “ketika Adam masih tergeletak dalam tanah liatnya”, yakni sebelum ruh ditiupkan ke dalam jasadnya. Riwayat ini dikuatkan pula oleh hadis senada dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan at-Tirmidzi, ketika para sahabat bertanya kapan kenabian itu ditetapkan, dan beliau menjawab: “Ketika Adam masih berada di antara ruh dan jasad.” Kedua riwayat ini—yang dinilai shahih al-isnad oleh al-Hakim dan saling menguatkan satu sama lain dan menjadi fondasi bagi argumen filosofis-teologis dalam esai ini: bahwa kesempurnaan sejati bukanlah hasil evolusi kebetulan, bukan pula produk kehendak liar yang menciptakan nilainya sendiri secara sewenang-wenang sebagaimana konsep Wille zur Macht Nietzsche. Kesempurnaan itu adalah desain kosmis, bagian dari tatanan yang telah ditetapkan sejak azali dalam ilmu Allah, tersurat di Ummul Kitab jauh sebelum penciptaan Adam, sebuah gagasan yang menantang premis dasar filsafat Nietzschean tentang ketiadaan makna objektif di alam semesta pasca-“kematian Tuhan”.

Timbul kemudian sebuah pertanyaan logis yang telah dijawab tuntas oleh Ibnu Rajab sendiri dalam kitabnya, menjawab keberatan bahwa jika demikian bukankah Adam yang lebih dahulu hidup sebagai manusia:

ولا يقال: فقد خلق آدم قبله لأن آدم حينئذ كان مواتا لا روح فيه ومحمد صلى الله عليه وسلم كان حيا حين استخراج ونبىء وأخذ ميثاقه فهو أول النبيين خلقا وآخرهم بعثا فهو خاتم النبيين باعتبار أن زمانه تأخر عنهم فهو: المقفى والعاقب الذي جاء عقب الأنبياء ويقفوهم قال تعالى: {مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ} [الأحزاب: ٤٠]

“Dan tidak boleh dikatakan: ‘Bukankah Adam telah diciptakan sebelumnya?’ Sebab, Adam ketika itu masih berupa jasad mati yang belum memiliki ruh, sedangkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hidup ketika (ruhnya) dikeluarkan, lalu diangkat menjadi nabi, dan diambil perjanjiannya. Maka beliaulah nabi yang pertama kali diciptakan, namun yang terakhir diutus. Karenanya, beliau adalah penutup para nabi, ditinjau dari sisi bahwa zamannya datang belakangan dari mereka semua. Beliaulah al-Muqaffa dan al-‘Aqib, yang datang mengikuti jejak para nabi sebelumnya dan menyusul di belakang mereka. Allah Ta’ala berfirman: ‘Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.'” (QS. Al-Ahzab: 40)

Ibnu Rajab di sini membedakan dua dimensi: khalqan (penetapan/pencatatan kenabian dalam ilmu Allah), di mana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahului seluruh nabi lain, dengan ba’tsan (pengutusan nyata di alam dunia), di mana beliau datang paling akhir. Pembedaan inilah yang menjelaskan makna khātam an-nabiyyīn secara tepat, bukan yang pertama secara kronologi kemunculan di dunia, melainkan penutup yang datang mengiringi dan menyempurnakan seluruh risalah kenabian sebelumnya, sebagaimana makna literal al-Muqaffa dan al-‘Aqib yang disandangkan kepada beliau dalam hadis-hadis sahih riwayat Muslim.

Di titik inilah letak perbedaan yang paling krusial antara kedua kerangka pemikiran ini. Übermensch Nietzsche lahir dari kekosongan makna—ia mencipta nilai justru karena tiada nilai yang given, tiada otoritas moral di luar dirinya sendiri. Kekuasaannya bersifat sentripetal: berputar dan bermuara pada dirinya sendiri. Sebaliknya, kesempurnaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam justru lahir dari totalitas pengabdian (‘ubudiyyah) yang bersifat sentrifugal, mengalir keluar dari dirinya menuju Sang Pencipta dan menuju seluruh umat manusia. Gelar tertinggi yang disandangkan kepada beliau dalam Al-Qur’an, pada momen kemuliaan tertingginya sekalipun — yaitu peristiwa Isra Mi’raj — bukanlah “raja” atau “penguasa dunia,” melainkan ‘abduhu, hamba-Nya: {سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ} “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya” (QS. Al-Isra: 1). Inilah paradoks yang menakjubkan sekaligus subversif terhadap logika Nietzschean: manusia paling agung dalam sejarah justru adalah manusia yang paling sempurna penghambaannya. Jika Nietzsche mendefinisikan keagungan sebagai kesanggupan berkata “ya” pada hidup tanpa Tuhan (amor fati), maka model kenabian menunjukkan bentuk keagungan yang jauh lebih menuntut: kesanggupan berkata “ya” pada seluruh beban risalah, keadilan sosial, dan kasih sayang universal itu justru karena dan untuk Tuhan, bukan meski tanpa-Nya.

Argumen filosofis ini bukan tanpa pijakan historis yang keras dan terverifikasi. Dalam rentang waktu kurang dari dua dekade sejak diutus, seorang yatim piatu dari lorong sunyi jazirah Arab yang tandus mengubah masyarakat jahiliah—yang dibangun di atas fanatisme kesukuan (‘ashabiyyah), perbudakan tanpa batas, dan tradisi penguburan bayi perempuan hidup-hidup, menjadi peradaban yang menegakkan supremasi hukum, mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, dan meletakkan fondasi etika universal yang lintas suku dan bangsa. Bahkan sejarawan Barat yang tidak berangkat dari kerangka teologis sekalipun, seperti Michael H. Hart dalam karyanya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, menempatkan beliau sebagai figur nomor satu paling berpengaruh dalam sejarah manusia — melampaui Newton maupun Yesus — dengan pertimbangan pengaruh gabungan dalam ranah spiritual sekaligus politik-sosial. Fakta ini menegaskan: jika Übermensch didefinisikan sebagai manusia yang berhasil mengatasi keterbatasan zamannya dan mengubah arah sejarah secara fundamental, maka tak ada figur yang lebih layak menyandang gelar tersebut selain beliau, namun dengan catatan epistemologis yang membedakan secara tegas: bukan sebagai manusia yang mengatasi atau menggantikan Tuhan, melainkan manusia yang paling sempurna merepresentasikan kehendak dan kasih sayang Tuhan di muka bumi.

Maka, memuliakan Rabi’ul Awwal semestinya bukan sekadar ritual seremonial tahunan yang berhenti pada pembacaan sirah dan pujian lisan, melainkan momentum tahunan untuk merenungkan kembali secara jujur: apakah kita, sebagai umat yang mengaku mencintai beliau, telah benar-benar meneladani esensi kesempurnaannya, yakni penghambaan total kepada Allah yang justru – secara paradoks – melahirkan kebebasan sejati dari perbudakan hawa nafsu, ego yang tak terkendali, dan ambisi kekuasaan tanpa arah yang justru menjadi penyakit kronis peradaban modern? Dalam dunia kontemporer yang gandrung pada narasi self-made man, individualisme radikal, dan pemujaan terhadap kehendak pribadi tanpa batas etis, kisah kelahiran di bulan Rabi’ul Awwal ini justru menawarkan model alternatif yang lebih utuh: keagungan sejati tidak lahir dari pemberontakan terhadap makna yang telah ada, melainkan dari penyerahan diri total kepada Sang Pemberi Makna itu sendiri.

Jika Nietzsche mencari Übermensch dalam kekosongan yang tersisa setelah “kematian Tuhan,” maka sejarah dan tradisi keilmuan Islam telah mencatat kelahiran manusia paripurna justru pada bulan Rabi’ul Awwal, bukan sebagai manusia yang menggantikan atau menafikan Tuhan, melainkan sebagai manusia yang paling sempurna mencerminkan cahaya-Nya di antara seluruh makhluk yang pernah diciptakan. Dialah yang datang bukan untuk menaklukkan dunia bagi dirinya sendiri, melainkan sebagai rahmatan lil ‘alamin – rahmat bagi seluruh semesta alam (QS. Al-Anbiya: 107). Dan di situlah, barangkali, terletak definisi paling autentik dari manusia yang benar-benar melampaui manusia.

Kontributor