Isu krisis lingkungan hidup dan perubahan iklim kerap dipandang sebatas persoalan teknis ekologi semata. Namun, di Posyandu Melati 7B, Desa Sukamanah, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, persoalan kelestarian alam dibedah melalui kacamata spiritualisme dan doktrin teologi Islam. Puluhan warga, tokoh masyarakat, dan jajaran pemerintah desa berkumpul menyimak gagasan baru: membumikan nilai-nilai Al-Qur’an untuk merawat ekosistem lokal.
Inisiatif tersebut digagas oleh mahasiswi Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Kelompok 10 (Velora) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta. Melalui program bertajuk “Sosialisasi Ekoteologi Al-Qur’an melalui Gerakan Penanaman Bibit Pohon dan Pembuatan Kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA)” pada Rabu, 22/07/2026. Mereka menghadirkan diskursus keagamaan yang transformatif dan berdampak nyata bagi masyarakat perdesaan.
Manifestasi Amanah Khalifah di Atas Bumi
Konsep dasar yang diusung dalam sosialisasi ini menitikberatkan pada reposisi kedudukan manusia terhadap alam semesta. Dalam paparannya, pemateri ekoteologi IIQ Jakarta, Mudrikah Nur Tsuroya, menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak pernah menempatkan manusia sebagai pemilik mutlak yang berhak mengeksploitasi alam tanpa batas.
“Manusia dijadikan sebagai khalifah, yaitu pihak yang diberi amanah oleh Allah SWT untuk mengelola, memakmurkan, dan menjaga bumi. Manusia bukan pemilik bumi, melainkan penjaga yang bertanggung jawab atas apa yang dititipkan. Karena itu, menjaga lingkungan adalah bagian integral dari menjalankan amanah sebagai khalifah. Saat kita menjaga kebersihan, menanam pohon, dan merawat tanaman, kita sedang menjalankan perintah agama,” ungkap Mudrikah.
Pendekatan ekoteologi ini mendapat sambutan hangat dari warga. Menurut Helsa Tria Munawaroh, Ketua Kelompok 10 KKL IIQ Jakarta, pengabdian masyarakat tidak boleh berhenti pada tataran retorika akademis semata, melainkan harus diterjemahkan ke dalam gerakan fisik yang terukur.
“Kegiatan ini merupakan ikhtiar bersama untuk menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan adalah amanah kitab suci. Semoga terjalin sinergi berkelanjutan antara mahasiswa dan warga dalam mewujudkan lingkungan Sukamanah yang hijau, sehat, dan bermanfaat bagi generasi mendatang,” ujar Helsa dalam sambutannya.
Sinergi Pemerintah Desa dan Penghijauan Komunal
Pemerintah Desa Sukamanah menyambut positif langkah konkret para mahasiswi IIQ Jakarta. Kepala Desa Sukamanah, Hadi Sutardi, mengapresiasi terobosan mahasiswi yang memadukan penyuluhan agama dengan penyerahan bibit tanaman produktif bagi masyarakat Dusun 6.
“Terima kasih kami ucapkan kepada mahasiswi Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta yang telah memberikan bibit tanaman kepada warga Dusun 6. Semoga bibit ini dapat kami jaga dan rawat bersama hingga berbuah dan memberikan kemanfaatan yang luas,” ungkap Hadi.
Acara tidak berhenti di dalam ruangan posyandu. Usai sesi sosialisasi, acara dilanjutkan dengan penanaman bibit pohon secara simbolis serta perintisan Kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di area sekitar. Aksi penanaman ini melibatkan jajaran pimpinan wilayah hingga tingkat RT dan RW secara berurutan.
Prosesi penanaman simbolis diawali langsung oleh Kepala Desa Sukamanah Hadi Sutardi, lalu dilanjutkan oleh Kepala Dusun 06, jajaran pengurus RT dan RW setempat, serta perwakilan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Kebersamaan tersebut diwujudkan lewat penanaman 14 bibit buah produktif, seperti mangga, alpukat, manggis, beberapa jenis jambu, serta jeruk.
Investasi Ekologis untuk Masa Depan Jonggol
Penanaman 14 bibit buah-buahan produktif beserta kebun tanaman obat ini dirancang sebagai pemantik kemandirian ekologis warga setempat. Selain berfungsi secara ekologis sebagai penyerap karbon dan penahan erosi tanah, tanaman buah dan obat-obatan herbal ini diproyeksikan dapat menopang kesehatan masyarakat serta mendukung pemenuhan gizi keluarga di Desa Sukamanah.
Gerakan yang dihadirkan mahasiswi IIQ Jakarta di Kecamatan Jonggol ini menjadi cermin bahwa gerakan literasi keagamaan masa kini telah bertransformasi. Doktrin Al-Qur’an tidak lagi sekadar dilantunkan di atas mimbar, melainkan ditanamkan langsung ke dalam bumi melalui akar-akar pohon yang menopang kehidupan bersama. (Syafa Wafi Salsabila)









