Ustadz Ali adalah guru ngaji di rumah kami. Ia merupakan teman ayah. Beliau adalah lulusan sebuah pesantren di kota Jombang.
Kemarin, Ustadz Ali menjelaskan tentang adzan dan cara menjawabnya.
“Ayo! Setelah lafadz adzan saya tulis, sekarang praktek satu persatu!” Perintah Ustadz Ali kepada kami. Adikku, Bani yang baru duduk di kelas 6 SD maju pertama, kemudian disusul aku, lalu Kak Irwan. Setelah 15 menit berlangsung, kami bertiga menyelesaikan praktek adzan. Kemudian Ustadz Ali melanjutkan pelajarannya.
“Baik. Sekarang kita akan belajar cara menjawab adzan. Untuk menjawab adzan lafadznya sama dengan adzan itu sendiri, kecuali pada kalimat “hayya ala al-sholah” dan “hayya ala al-falah”, dijawab dengan kalimat “la Haula wala quwwata illa Billah.” Paham?” Kami bertiga menganggukkan kepala seraya bilang: “Paham.”
“Bagus. Sekarang saya mau menjelaskan tentang keutamaan adzan dan menjawabnya. Saya tuliskan di papan ya?”
“Ya Ustadz!” Jawab kami serempak.
Ustadz Ali berdiri lalu menuliskan sebuah hadits dalam bahasa Arab di white board dengan spidol:
عن ابي هريرة : ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا نودي الصلاة، ادبر الشيطان وله ضراط، حتى لا يسمع التأذين
“Wah Ustadz, aku kesulitan nulis Arab!” Keluh Bani. “Bagaimana kalau aku foto aja dengan Hape, Ustadz?” Lanjutnya. “Wah gak boleh, Bani! Kamu harus latihan nulis Arab, gak apa nulisnya lama, yang penting kamu harus terampil nulis Arab! Kamu jangan mau dibikin malas sama hape!” Terang Ustadz Ali kepada Bani.
“Baiklah kalau begitu Ustadz, Bani coba!” Pungkas kata Bani. Akhirnya kami pun menulis tulisan yang Ustadz Ali tulis di white board.
“Sudah selesai nulis anak-anak? Ayo sekarang saya dektekan terjemahannya. Saya ucapkan nanti kalian tulis ya!”
“Baik Ustadz!”
“Dari Abi Hurairoh: “Bahwasannya Rasulallah bersabda: “Jika seruan adzan untuk sholat dikumandangkan, syaitan akan menyingkir sambil terkentut-kentut, sampai suara adzan tak terdengar.”
“Jadi, saat adzan, Wewe gombel, genderuwo, dan nenek pakande lari ya ustadz?” Tanya Bani antusias.
“Ya Bani, mereka lari ketakutan.” Jawab Ustadz Ali singkat.
“Wah…kalau gitu aku tak adzan terus ah, nanti di masjid!”
“Bagus itu Bani, ilmu harus dipraktekkan!” Kata Ustadz sambil mengacungkan jempolnya.
“Baik, sedangkan keutamaan menjawab adzan, bunyi haditsnya saya tuliskan di papan lagi.” Kemudian Ustadz Ali berdiri untuk menulis.
روى عمر رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا قال المؤذن الله أكبر الله أكبر، فقال احدكم الله أكبر الله أكبر، ثم قال أشهد ان لا اله الا الله فقال أشهد ان لا اله الا الله، ثم قال اشهد ان محمدا رسول الله. فقال اشهد ان محمدا رسول الله، ثم قال حي على الصلاة فقال لا حول ولا قوة الا بالله ثم قال حي على الفلاح فقال لا حول ولا قوة الا بالله ثم قال الله أكبر الله أكبر فقال الله أكبر الله أكبر ثم قال لا اله الا الله فقال لا اله الا الله (خالصا) من قلبه دخل الجنة
“Kok panjang sekali Ustadz, haditsnya? Capek nulisnya!” Ujar Bang Irwan, kakak tertua kami yang sudah duduk di kelas 3 SMP.
“Ya sudah, gak usah ditulis. Saya jelaskan intinya saja ya. Jadi hadits barusan menjelaskan tentang bagaimana cara menjawab adzan dan keutamaannya. Cara menjawab adzan sudah saya jelaskan tadi, sedangkan keutamaan menjawab adzan adalah barangsiapa yang menjawab adzan dengan ikhlas yaitu murni mencari ridlo Allah, maka dia akan masuk surga.”
“Wah…mudah sekali ya Ustadz masuk surga?” Kataku kepada Ustadz Ali.
“Ya mudah..kalau dapat ridlo dan Rahmat Allah.” Jawab Ustadz Ali sambil membayangkan fenomena-fenomena janggal saat sebagian orang-orang Islam sekarang dalam usaha mereka mendapatkan surga. Mereka rela bunuh diri dan membunuh orang lain dengan alasan jihad untuk mendapatkan surga.
Ia jadi teringat pengajian Kyainya saat nyantri dulu.
“Ada perbedaan mendasar antara orang yang melakukan maksiat. Yang pertama orang melakukan maksiat dan ia tahu perbuatannya maksiat. Kedua orang melakukan maksiat dan ia tak tahu apa yang ia lakukan maksiat. Kondisi yang kedua ini akan menggiring ia untuk menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Seperti membunuh orang dan ia menyakini perbuatannya adalah jihad.” Ustadz Ali menghela nafas panjang sambil memandangi wajah Bani yang akan gemar adzan di masjid.
*****
Tiba-tiba terdengar suara adzan Maghrib dari masjid dan diikuti adzan-adzan lainnya dari musholla-musholla sekitar.
“Ya, kita akhiri sampai di sini dulu ya pembahasan kita tentang adzan. Sekarang pengamalan ilmunya. Ayo adzan di masjid itu dijawab!”
“Gimana ustadz jawabnya? Adzannya saling berebutan. Gak jelas. Jadi aku bingung adzan mana yang harus dijawab?” Ujar Bani.
“Jawab yang paling kencang!”
“Semuanya kencang Ustadz. Sebab semua pakai speaker!”
“Yaudah jawab adzan masjid yang pertama.”
“Sudah gak jelas lagi Ustadz, mana adzan pertama, yang kedua dan yang ketiga.”
“Yawis jawab sebisanya!”
“Ternyata mengamalkan ilmu tak semudah teorinya.” Batin Ustadz Ali.
Tabik,
Lamongan, Selasa 28 Juli 2026









Please login to comment