Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

‎Abdullah Wong dan Pintu yang Masih Bisa Diketuk

Avatar photo
30
×

‎Abdullah Wong dan Pintu yang Masih Bisa Diketuk

Share this article
‎Abdullah Wong dan Pintu yang Masih Bisa Diketuk.
‎Abdullah Wong dan Pintu yang Masih Bisa Diketuk.

‎Pada 2023, ketika Nahdlatul Ulama memperingati satu abad usianya, aku berkesempatan mewawancarai almarhum Yai Abdullah Wong. Ada satu pemikirannya yang masih kuingat. Warisan terkuat seorang pemuka agama, katanya, adalah menjadi tempat masyarakat kembali, terutama ketika akses sosial, ekonomi, dan kesehatan masih terbatas.
‎
‎Aku kira ia sedang berbicara tentang sesuatu yang sering luput dari pengertian kita tentang ulama.
‎
‎Orang mendatangi kiai, ustadz, atau habib tidak selalu untuk bertanya tentang surga dan neraka. Kadang anaknya sakit, utangnya menumpuk, pekerjaannya hilang, atau rumah tangganya berantakan. Bahkan, ada yang datang hanya untuk bercerita. Sebab, tak semua kesulitan membutuhkan fatwa. Sebagian hanya memerlukan seseorang yang bersedia mendengar.
‎
‎Di situlah otoritas keagamaan memperoleh makna lain. Bukan semata dari kitab yang dikuasai, panjangnya sanad keilmuan, atau kemuliaan nasab. Tetapi dari kepercayaan bahwa seorang guru akan hadir ketika dibutuhkan.
‎
‎Kepercayaan semacam itu tidak lahir dari mimbar. Ia tumbuh dari perjumpaan yang panjang, rumah yang terbuka, dan tangan yang bersedia membantu. Seorang ulama mungkin tak punya rumah sakit. Tetapi ia tahu kepada siapa harus menelepon ketika seorang warga membutuhkan pertolongan.
‎
‎Aku pernah menyaksikannya di Luxor, Mesir.
‎
‎Di sana aku bertemu Syekh Muhammad al-Tayyib, kakak Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmad al-Tayyib. Beliau tokoh Tarekat Khalwatiyah Hasaniyyah yang dihormati masyarakat. Orang datang membawa berbagai persoalan. Ketika seorang warga sakit dan kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan, beliau menghubungi rumah sakit agar segera memberikan bantuan.
‎
‎Tak ada ceramah panjang tentang kesabaran. Tak cukup pula nasihat memperbanyak doa.
‎
‎Tentu, orang sakit membutuhkan doa. Tetapi ia juga memerlukan dokter. Orang lapar pun tak cukup diberi ayat dan hadis. Ia membutuhkan makanan.
‎
‎Dalam tradisi tasawuf, aku pernah mendengar pembedaan sederhana antara ibādullāh dan rijālullāh. Yang pertama digambarkan tekun beribadah, sementara yang kedua menghadirkan pengabdiannya dengan menolong sesama. Keduanya tentu bukan kategori baku yang saling bertentangan. Tetapi ada pesan menarik di sana: kedekatan kepada Tuhan seharusnya tidak menjauhkan seseorang dari penderitaan manusia.
‎
‎Namun, pemikiran Abdullah Wong sebenarnya menyimpan pertanyaan yang lebih mengganggu.
‎
‎Mengapa orang miskin mesti mendatangi kiai untuk mendapatkan pelayanan kesehatan? Mengapa bantuan baru datang setelah seorang tokoh agama menelepon pejabat atau rumah sakit? Bukankah semua itu semestinya menjadi hak warga negara?
‎
‎Barangkali, di situlah ironi negara kita. Ketika pelayanan publik sulit dijangkau, masyarakat mencari pintu lain. Dan sering kali pintu itu adalah rumah seorang ulama.
‎
‎Kebaikan mereka patut dihargai. Tetapi jangan sampai kedermawanan ulama menjadi alasan bagi negara untuk terus absen. Sebab, kemiskinan bukan perkara yang dapat diselesaikan hanya dengan doa dan kemurahan hati.
‎
‎Ironi lain justru muncul dari dunia keagamaan sendiri.
‎
‎Sebagian pemuka agama kini memiliki akses luas kepada kekuasaan. Itu tentu bukan masalah. Persoalannya, untuk siapa akses tersebut digunakan? Untuk membantu orang kecil atau menikmati fasilitas sendiri?
‎
‎Transportasi gratis, ruang VVIP, pengawalan, pelayanan khusus di hotel dan bandara, amplop, hingga kedekatan dengan pejabat kadang dianggap sebagai hak istimewa seorang ulama. Bahkan, hubungan guru dan murid yang seharusnya dibangun atas kepercayaan bisa berubah menjadi jalan memenuhi kepentingan pribadi. Menambah istri, misalnya, dengan memanfaatkan ketimpangan kuasa terhadap santriwati.
‎
‎Tentu tidak semua ulama demikian. Tetapi kita perlu membedakan penghormatan yang diberikan dengan privilese yang dituntut.
‎
‎Dulu, masyarakat mendatangi ulama untuk mencari pertolongan. Kini, jangan-jangan ada sebagian orang yang ingin menjadi ulama justru untuk memperoleh pertolongan, fasilitas, dan kemudahan dari masyarakat.
‎
‎Aku teringat cuplikan film Para Pencari Tuhan. Hubungan Ustadz Ferry dan Bang Udin begitu cair. Mereka bercanda, saling meledek, dan tertawa tanpa kehilangan rasa hormat. Ada nuansa egaliter masyarakat Betawi di sana. Guru tak perlu selalu menjaga jarak agar tetap berwibawa.
‎
‎Memang, film bukan potret utuh kehidupan. Tetapi adegan itu mengingatkan bahwa otoritas agama juga membutuhkan kehangatan. Seorang guru yang dekat dengan muridnya memungkinkan orang datang bukan hanya membawa pertanyaan tentang kitab, tetapi juga kesulitan hidup.
‎
‎Barangkali itulah warisan keulamaan yang dibicarakan Abdullah Wong. Bukan berapa banyak keturunan, murid, pesantren, atau pejabat yang mengenalnya. Melainkan berapa banyak orang yang hidupnya menjadi sedikit lebih ringan karena kehadirannya.
‎
‎Ada ungkapan, al-insān ‘abd al-iḥsān. Manusia mudah terikat oleh kebaikan yang diterimanya. Orang mungkin lupa isi ceramah, nasihat, bahkan kitab yang pernah diajarkan gurunya. Tetapi sulit melupakan seseorang yang membukakan pintu ketika pintu-pintu lain tertutup.
‎
‎Sebab, ukuran seorang ulama bukan seberapa mudah ia memperoleh akses kepada kekuasaan, melainkan seberapa banyak orang kecil memperoleh pertolongan melalui dirinya.
‎
‎Dan mungkin, menjadi ulama tak harus berarti menjadi orang yang paling dihormati. Cukup menjadi seseorang yang pintu rumahnya masih bisa diketuk ketika orang lain tak tahu lagi harus pergi ke mana.

Kontributor

  • Mabda Dzikara

    Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang aktif menjadi dosen di IIQ Jakarta.