Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Penyesalah Uqbah karena Circle Teman Menyesatkan

Avatar photo
39
×

Penyesalah Uqbah karena Circle Teman Menyesatkan

Share this article
Dalam Islam, memilih teman bukan hanya urusan sosial, tetapi juga perkara yang sangat menentukan keselamatan hidup seseorang.
Dalam Islam, memilih teman bukan hanya urusan sosial, tetapi juga perkara yang sangat menentukan keselamatan hidup seseorang.

Penyesalan yang datang terlambat merupakan salah satu bentuk kerugian paling besar yang dapat dialami oleh seorang manusia yakni ketika seluruh kesempatan telah tertutup, tidak ada lagi ruang untuk kembali, dan ungkapan “seandainya” tidak lagi membawa manfaat apa pun.

Allah Tabaraka wa Ta’ala menggambarkan suasana itu dengan sangat nyata dalam firman-Nya:

 وَيَوۡمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيۡهِ يَقُوۡلُ يٰلَيۡتَنِى اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِيۡلًا‏ يٰوَيۡلَتٰى لَيۡتَنِىۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيۡلًا‏

“Dan pada hari ketika orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: ‘Wahai, seandainya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Celakalah aku, seandainya aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman dekat.'” (QS. Al-Furqan: 27–28)

Gambaran seseorang yang menggigit kedua tangannya di Hari Kiamat bukanlah sekadar kiasan. Ia adalah potret nyata dari jiwa yang hancur oleh penyesalan yang tidak lagi membawa manfaat sedikit pun. Al-Qur’an mengabadikan kisah ini bukan tanpa sebab. Di baliknya tersimpan pelajaran yang sangat dalam bagi siapa saja yang mau merenungkannya (Sirah fi Dhauil Quran, halm 84 karya Dr. Abdusshobur Mardzuki).

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan kisah nyata di masa Rasulullah kisah seorang lelaki bernama Uqbah bin Abi Mu’ith, yang karena pengaruh seorang teman dekatnya, rela melakukan perbuatan paling hina kepada manusia paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di muka bumi ini.

Jadi tidak semua pertemanan membawa seseorang menuju kebaikan. Ada teman yang mampu menguatkan iman, mengingatkan ketika salah, dan menuntun kepada jalan yang diridhai Allah. Namun ada pula teman yang justru menyesatkan, membisikkan keburukan, bahkan menyeret sahabatnya menuju kehancuran dunia dan akhirat. Dalam Islam, memilih teman bukan hanya urusan sosial, tetapi juga perkara yang sangat menentukan keselamatan hidup seseorang.

Kisah ini kemudian diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran bagi seluruh manusia. Penyesalan Uqbah digambarkan begitu dalam pada hari kiamat, ketika ia menggigit kedua tangannya karena sadar bahwa dirinya telah mengikuti jalan yang salah. Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa seorang teman dapat menjadi jalan menuju surga, tetapi juga bisa menjadi sebab seseorang terjerumus ke dalam neraka.

Latar belakang dari cerita ini dikisahkan bahwa ada dua sosok tokoh yaitu, Uqbah bin Abi Mu’ith dan Ubay bin Khalaf bin Wahb.

Keduanya adalah sahabat karib. Bukan sekadar kenalan biasa, melainkan dua orang yang hubungannya sangat dekat dan akrab. Mereka tumbuh bersama dalam lingkungan Quraisy, saling mengenal, dan memiliki hubungan bisnis (Rohiqul Makhtum karya Syafiqurrohman Al Mubarakfuri).

Namun di antara keduanya, ada satu perbedaan yang justru menjadi titik balik dari seluruh kisah ini. Pada suatu hari Uqbah melakukan sesuatu yang tidak diduga oleh sahabatnya. Ia mendatangi Rasulullah, duduk bersama beliau, dan mendengarkan perkataan beliau dengan penuh perhatian. Entah apa yang menggerakkan hatinya saat itu apakah keingintahuan, ataukah memang ada hidayah yang mulai menyentuh kalbunya (Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam, halm. 69, karya Abdusshalam Muhammad Harun).

Dan kabar itu pun sampai ke telinga Ubay bin Khalaf. Mendengar hal tersebut, Ubay bin Khalaf naik pitam. Ia segera mendatangi Uqbah dan dengan nada penuh ancaman berkata:

“Apakah benar telah sampai kepadaku bahwa engkau duduk bersama Muhammad dan mendengarkan ucapannya?! Aku tidak akan berbicara lagi denganmu ia bersumpah dengan sangat keras jika engkau masih duduk bersamanya atau mendengarkan darinya, kecuali bila engkau datang kepadanya lalu meludahi wajahnya!” (Sirah fi Dhauil Quran, halm 84 karya Dr. Abdusshobur Mardzuki).

Uqbah bin Abi Mu’ith memilih persahabatan dunianya di atas kebenaran yang mulai mengetuk pintu hatinya. Ia memilih untuk mempertahankan hubungan dengan Ubay, dengan cara yang keji. Ia pun mendatangi Rasulullah dan benar-benar melakukan apa yang diperintahkan Ubay. Yaitu meludahi wajah Rasulullah.

Rasulullah telah mengingatkan kita tentang betapa besarnya pengaruh seorang teman dalam kehidupan seseorang. Dalam sebuah hadis yang masyhur, beliau bersabda:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Hadis ini memperikan gambaran bagi kita tentang pntingnya memilih teman. Ini adalah peta kehidupan yang Rasulullah wariskan kepada kita. Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadis ini memuat dua pelajaran sekaligus keutamaan bergaul dengan orang-orang saleh yang memiliki akhlak mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab serta peringatan keras untuk menjauhi teman yang buruk, ahli bid’ah, dan mereka yang memiliki sikap-sikap tercela. (Syarh Shahih Muslim 4/227)

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah pun menegaskan bahwa hadis ini mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia. (Fathul Bari 4/324) 

Oleh sebab itu, memilih teman yang baik merupakan hal yang sangat penting, karena teman dapat memengaruhi cara berpikir, sikap, dan bahkan masa depan seseorang.

Kontributor

  • Rani Wahyuni

    Alumni Pondok Pesantren Darul Ikhlash, Mahasantri Ma’had Aly Sa’idussidiqiyah, Jakarta.