Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Khutbah Jumat

Khutbah Jumat: Tiga Tingkatan Ikhlas dalam Beribadah

Avatar photo
30
×

Khutbah Jumat: Tiga Tingkatan Ikhlas dalam Beribadah

Share this article
Ikhlas adalah salah satu amalan hati yang paling mulia dan menjadi syarat utama diterimanya amal ibadah di sisi Allah swt. Tanpa ikhlas, amal sebesar apa pun akan kehilangan nilainya di hadapan-Nya.
Ikhlas adalah salah satu amalan hati yang paling mulia dan menjadi syarat utama diterimanya amal ibadah di sisi Allah swt. Tanpa ikhlas, amal sebesar apa pun akan kehilangan nilainya di hadapan-Nya.

Ikhlas adalah salah satu amalan hati yang paling mulia dan menjadi syarat utama diterimanya amal ibadah di sisi Allah swt. Tanpa ikhlas, amal sebesar apa pun akan kehilangan nilainya di hadapan-Nya. Maka Khutbah Jumat kali ini bertema: Memahami Tiga Tingkatan Ikhlas dalam Beribadah.

Khutbah Pertama 

اَلْحَمْدُ لله، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِأَنْوَاعِ امْتِنَانِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ الَّذِيْ جَعَلَهُ اللهُ خَيْرَ خَلْقِهِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ  اَشْرَفِ عِبَادِهِ. أَما بعد: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah:

Ikhlas bukanlah sifat yang tiba-tiba hadir tanpa usaha. Ia memerlukan pembinaan hati, mujahadah (kesungguhan melawan hawa nafsu), serta pemahaman yang mendalam tentang tujuan hidup sebagai hamba Allah. Seiring perjalanan seorang hamba menuju Allah, tingkatan ikhlasnya pun akan meningkat, dari sekadar takut akan hukuman, berharap pahala, hingga mencapai tingkat tertinggi yaitu beribadah semata-mata karena Allah. Dalil yang menganjurkan tentang ikhlas adalah firman Allah ﷻ: 

اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَۗ ۝٢

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS Al-Zumar: 2)

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah:

Adapun makna ikhlas menurut para ulama adalah sebagaimana yang dikatakan Imam Hudzaifah al-Mar’asyi rahimahullah, yaitu: 

الإِخلاصُ أن تستوي أفعالُ العبد في الظاهر والباطن.

Artinya: Ikhlash adalah samanya kedudukan perbuatan hamba di dalam dhohir dan batin.

Sedangkan menurut Abu al-Qosim al-Qusyairiy, adalah: 

اﻹﺧﻼﺹ ﺇﻓﺮاﺩ اﻟﺤﻖ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ اﻟﻄﺎﻋﺔ ﺑﺎﻟﻘﺼﺪ، ﻭﻫﻮ ﺃﻥ ﻳﺮﻳﺪ ﺑﻄﺎﻋﺘﻪ اﻟﺘﻘﺮﺏ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺩﻭﻥ ﺷﺊ ﺁﺧﺮ: ﻣﻦ ﺗﺼﻨﻊ ﻟﻤﺨﻠﻮﻕ، ﺃﻭ اﻛﺘﺴﺎﺏ ﻣﺤﻤﺪﺓ ﻋﻨﺪ اﻟﻨﺎﺱ، ﺃﻭ ﻣﺤﺒﺔ ﻣﺪﺡ ﻣﻦ اﻟﺨﻠﻖ ﺃﻭ ﻣﻌﻨﻰ ﻣﻦ اﻟﻤﻌﺎﻧﻲ ﺳﻮﻯ اﻟﺘﻘﺮﺏ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.

Artinya: Ikhlash adalah menjadikan Allah yang Haqq sebagai satu-satunya tujuan taat kepada-Nya, yaitu keinginan hamba dengan mentaati-Nya bisa taqorrub atau mendekatkan diri kepada Allah ta’ala tanpa tercampur keinginan atau tujuan yang lain seperti berbuat untuk makhluk atau ingin di puji orang lain , atau karena suka di puji makhluk atau tujuan-tujuan yang selain mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah:

Memahami tingkatan ikhlas sangat penting agar kita dapat menilai diri, memperbaiki niat, dan berusaha mencapai derajat tertinggi dalam beribadah. Sebab, semakin murni niat kita, semakin besar nilai amal kita di sisi Allah, walau amal tersebut kecil di mata manusia dan berupa pekerjaan dunia. Sebagaimana yang dikutip dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim:

كم من عمل يتصور بصورة الدنيا فيصير من أعمال الآخرة بحسن النية, وكم من عمل يتصور بصور الآخرة فيصير من أعمال الدنيا بسوء النية

Artinya: Betapa banyak amal yang berbentuk amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena baiknya niat dan betapa banyak amal yang berbentuk amal akhirat tetapi jadi amal dunia belaka karena jeleknya niat.

Bahkan dijelaskan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, juz 3, halaman 414, bahwa semua manusia akan celaka kecuali orang yang berilmu dan beramal dengan ikhlas. Walaupun masih dalam kekhawatiran yang agung. Begini redaksinya: 

اﻟﻨﺎﺱ ﻛﻠﻬﻢ ﻫﻠﻜﻰ ﺇﻟﻰ اﻟﻌﺎﻟﻤﻮﻥ ﻭاﻟﻌﺎﻟﻤﻮﻥ ﻛﻠﻬﻢ ﻫﻠﻜﻰ ﺇﻻ اﻟﻌﺎﻣﻠﻮﻥ ﻭاﻟﻌﺎﻣﻠﻮﻥ ﻛﻠﻬﻢ ﻫﻠﻜﻰ ﺇﻻ اﻟﻤﺨﻠﺼﻮﻥ ﻭاﻟﻤﺨﻠﺼﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺧﻄﺮ ﻋﻈﻴﻢ

Artinya: Semua manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu. Semua orang berilmu akan binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa kecuali orang yang ikhlas. Mereka yang ikhlas masih dalam kekhawatiran yang agung.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah:

Dengan memahami tingkatan-tingkatan ikhlas, kita dapat senantiasa melakukan introspeksi diri dan menjaga niat dalam setiap amal ibadah. Dengan demikian, ibadah yang kita lakukan tidak hanya sah menurut hukum syariat, tetapi juga memiliki nilai dan kualitas yang tinggi di sisi Allah SWT.

Sebab, sebagaimana pohon membutuhkan akar yang kuat agar dapat tumbuh kokoh dan menghasilkan buah yang baik, demikian pula amal ibadah membutuhkan keikhlasan sebagai landasan utamanya agar bernilai di sisi Allah SWT serta mendatangkan kebaikan di dunia dan akhirat.

Adapun tingkatan ikhlas terbagi menjadi tiga, yaitu tingkatan tertinggi (‘ulya), tingkatan pertengahan (wustha), dan tingkatan terendah (dunya). Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyiyah Al-Bujairami ‘ala Al-Khatib, juz 1, halaman 18:

ﺩﺭﺟﺎﺕ اﻹﺧﻼﺹ ﺛﻼﺙ: ﻋﻠﻴﺎ ﻭﻭﺳﻄﻰ ودنيا.

Artinya: Tingkatan ikhlas ada tiga, yaitu tingkatan tinggi, pertengahan, dan rendah.

  1. Tingkatan Ikhlas yang Tertinggi (‘Ulya)

Tingkatan pertama adalah ketika seorang hamba beribadah semata-mata karena Allah SWT, sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah-Nya dan kesadaran akan kedudukannya sebagai hamba Allah. Pada tingkatan ini, seseorang tidak menjadikan harapan untuk memperoleh surga ataupun ketakutan terhadap neraka sebagai tujuan utama ibadahnya.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut:

ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ اﻟﻌﺒﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ اﻣﺘﺜﺎﻻ ﻷﻣﺮﻩ ﻭﻗﻴﺎﻣﺎ ﺑﺤﻖ ﻋﺒﻮﺩﻳﺘﻪ ﻻ ﻃﻤﻌﺎ ﻓﻲ ﺟﻨﺘﻪ ﻭﻻ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ ﻧﺎﺭﻩ، ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﻗﺎﻟﺖ ﺭاﺑﻌﺔ اﻟﻌﺪﻭﻳﺔ: ﻣﺎ ﻋﺒﺪﺗﻚ ﻃﻤﻌﺎ ﻓﻲ ﺟﻨﺘﻚ ﻭﻻ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ ﻧﺎﺭﻙ ﺇﻧﻤﺎ ﻋﺒﺪﺗﻚ اﻣﺘﺜﺎﻻ ﻷﻣﺮﻙ

Artinya: Seorang hamba beramal semata-mata karena Allah, sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah-Nya dan pelaksanaan hak penghambaan kepada-Nya, bukan karena mengharapkan surga-Nya dan bukan pula karena takut terhadap neraka-Nya.

  1. Tingkatan Ikhlas Pertengahan (Wustha)

Tingkatan kedua adalah ketika seorang hamba melakukan amal ibadah dengan tujuan memperoleh pahala dan balasan kebaikan di akhirat. Ia melaksanakan perintah Allah SWT dengan mengharapkan ganjaran yang telah dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut:

ﻭاﻟﻮﺳﻄﻰ ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ اﻟﻌﺒﺪ ﻟﺜﻮاﺏ اﻵﺧﺮﺓ

Artinya: Tingkatan pertengahan adalah ketika seorang hamba beramal untuk memperoleh pahala di akhirat.

  1. Tingkatan Ikhlas yang Terendah (Dunya)

Tingkatan ketiga adalah ketika seorang hamba melakukan amal ibadah dengan mengharapkan kemuliaan, pertolongan, atau keselamatan dari Allah SWT selama hidup di dunia, serta berharap agar terhindar dari berbagai musibah dan kesulitan.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab tersebut:

ﻭاﻟﺪﻧﻴﺎ ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ اﻟﻌﺒﺪ ﻟﻹﻛﺮاﻡ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﻓﻲ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭاﻟﺴﻼﻣﺔ ﻣﻦ ﺁﻓﺎﺗﻬﺎ، ﻭﻣﺎ ﻋﺪا ﻫﺬﻩ اﻟﺜﻼﺛﺔ ﺭﻳﺎء

Artinya: Tingkatan yang rendah adalah ketika seorang hamba beramal untuk memperoleh kemuliaan dari Allah di dunia dan keselamatan dari berbagai bencana yang ada di dalamnya. Adapun tujuan selain dari ketiga tingkatan tersebut termasuk riya’.

Sedangkan tanda-tanda ikhlas adalah, sebagaimana yang disampaikan Syaikh Dzun Nun Al-Misry dalam kitab Adzkar An-Nawawi  halaman 7, sebagai berikut: 

ﺛﻼﺙ ﻣﻦ ﻋﻼﻣﺎﺕ اﻹﺧﻼﺹ: اﺳﺘﻮاء اﻟﻤﺪﺡ ﻭاﻟﺬﻡ ﻣﻦ اﻟﻌﺎﻣﺔ، ﻭﻧﺴﻴﺎﻥ ﺭﺅﻳﺔ اﻷﻋﻤﺎﻝ ﻓﻲ اﻷﻋﻤﺎﻝ، ﻭاﻗﺘﻀﺎء ﺛﻮاﺏ اﻟﻌﻤﻞ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ.

Artinya: Adapun tanda-tanda keikhlasan ada tiga, yaitu: sama saja antara pujian dan celaan dari orang awam, melupakan pandangan terhadap amal dalam (melaksanakan) amal itu sendiri, dan hanya mengharap balasan amal di akhirat.”

Oleh karena itu, ikhlas menduduki posisi kunci dalam semua kegiatan kita. Mari kita selalu berusaha dan berdoa kepada Allah, semoga kita dipermudah oleh Allah dalam beribadah dengan balutan ikhlas lillâhi ta’âlâ. 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيْمِ، وَجَعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ بِماَ فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ. أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشيطن الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ 

Khutbah Kedua:

الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 

Kontributor

  • Ibrahim

    Santri Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam, Tepa'nah Barat, Durjan, Kokop, Bangkalan & pegiat Bahtsul Masail.