Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Muqaddimah Kitab, Harta Karun yang Kerap Terlewatkan

Avatar photo
58
×

Muqaddimah Kitab, Harta Karun yang Kerap Terlewatkan

Share this article
Manuskrip kitab Sahih Muslim.
Manuskrip kitab Sahih Muslim.

Dalam kitab-kitab ulama terdahulu, muqaddimah kitab merupakan harta karun yang tersembunyi. Banyak orang melangkahi bagian ini, padahal di dalamnya terdapat banyak sekali faidah metodologis yang bisa digali. Bahkan, begitu bagusnya muqaddimah sebuah kitab, beberapa di antaranya sampai disyarah oleh ulama yang datang pada masa berikutnya.

Misalnya, Syarah Marzuqi atas Diwan al-Hamasah. Muqaddimah kitab ini sangat penting dalam pembahasan kritik sastra. Di dalamnya dibahas metode memilah syair yang baik dan buruk, serta teori ‘Amud al-Syi‘r. Begitu pentingnya muqaddimah ini, Ibnu Asyur, penulis tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, sampai menyarahnya secara terpisah.

Contoh lainnya adalah muqaddimah Shahih Muslim. Isinya penuh dengan faidah ilmu musthalah hadis, termasuk pembahasan tentang cara menerima atau menolak seorang rawi. Ada beberapa ulama yang menyarah muqaddimah tersebut, di antaranya yang relatif baru adalah syarah karya Ni‘matullah al-A‘zami.

Begitu pentingnya muqaddimah beberapa kitab, ada ulama yang menghabiskan waktu berhari-hari untuk menyarah bagian tersebut. Bahkan, ada pula yang mencukupkan diri dengan mengajarkan muqaddimahnya saja, lalu beralih ke kitab berikutnya.

Dalam bidang lughah, ada dua muqaddimah kitab yang sangat penting.

Pertama, muqaddimah Taj al-‘Arus karya Murtadha al-Zabidi. Di dalamnya dibahas sepuluh persoalan yang berkaitan dengan bahasa, mulai dari pertanyaan apakah bahasa berasal dari wahyu Tuhan atau merupakan hasil kesepakatan manusia, pembahasan tentang periwayatan bahasa dan perbedaan antara riwayat mutawatir dan ahad, hingga tingkatan-tingkatan ahli bahasa serta etika yang harus dimiliki oleh seorang ahli bahasa.

Kedua, muqaddimah Khizanah al-Adab karya Abdul Qadir al-Baghdadi. Kitab ini merupakan salah satu karya paling luas dalam menjelaskan syawahid sebuah kitab. Di dalamnya dijelaskan 957 syahid dari Syarah al-Kafiyah karya al-Radhi al-Astarabadi. Dalam muqaddimahnya, al-Baghdadi menyinggung hal-hal yang sah dijadikan dalil dalam persoalan bahasa, nahwu, dan sharaf. Ia juga membahas keabsahan hadis sebagai dalil dalam ketiga bidang tersebut. Selain itu, ia menyebutkan referensi yang digunakan dalam penulisan kitabnya.

Secara pribadi, ketika membaca buku-buku baru yang ditulis pada masa ini, saya biasanya akan berfokus pada muqaddimahnya untuk menilai kualitas buku tersebut. Di sana akan terlihat gaya bahasa penulis, kerangka kitab, metodologi yang digunakan, dan mungkin juga keterangan tentang hal-hal baru yang ingin dimasukkan oleh penulis.

Terlebih lagi, jika kitab yang saya baca merupakan karya penulis Indonesia yang sebagian besar isinya berupa kutipan dari buku-buku sebelumnya, membaca muqaddimah menjadi hal yang sangat penting untuk menimbang seberapa layak dan penting kitab tersebut untuk dibaca.

Kontributor

  • Fahrizal Fadil

    Mahasiswa Indonesia di Mesir, asal dari Aceh. Saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Fakultas Bahasa dan Sastra Arab. Aktif menulis di Pena Azhary. Suka kopi dan diskusi kitab-kitab turats.