Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Riwayat Lain Doa Karramallahu Wajhah untuk Sahabat Ali bin Abi Thalib

Avatar photo
785
×

Riwayat Lain Doa Karramallahu Wajhah untuk Sahabat Ali bin Abi Thalib

Share this article

Termasuk
etika kita pada
sahabat
adalah mengucapkan doa setelah menyebut
namanya. Dan hal ini juga berlaku pada ulama bahkan pada orang muslim biasa.
Doa paling agung yang biasa kita dengar dan ucapkan ketika menyebut nama shabat
atau ulama yg sudah meninggal adalah radhiyaallahu ‘anhu (semoga Allah
meridhainya).

Tapi ada satu penghormatan yang tampak beda sama sekali dengan yang lain. Apa itu? Karramallahu wajhah
[semoga Allah memuliakan wajahnya]. Dan itu pun hanya ketika menyebut nama
putra
Abu Thalib
menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bagaimana
sejarahnya? Tentu kisahnya variatif mengenai hal ini, tapi ada yang lebih
“masuk akal” daripada plot yang mengisahkan bahwa “semoga
Allah memuliakan wajahnya”
diucapkan pada anak kecil pertama yang
masuk Islam itu karena ia tak pernah melihat kemaluannya sama sekali. V
ersi riwayat yang jamak didengar menyangkut kisah
ini
. Atau malah tahunya hanya itu?. Bukan berarti itu tak mungkin, tapi
perkenankan saya membagikan latar belakang versi lain.

Alasan
yang akan saya bagikan ini saya ambil dari muharrir mazhab Syafiiyah Abad 10 H,
yaitu Ibnu Hajar al-Haitami radhiyaallahu ‘anhu. Kisah itu ia bubuhkan
dalam al-Fatawa al-Haditsiyah.

Era
itu Jazirah Arab masih dipenuhi kaum pagan yang ratusan berhalanya mereka
letakkan di sekeliling kakbah. Belum lagi berhala yang mereka buat dan
diletakkan di rumah-rumah dan tempat kerja mereka. Tentu kondisi seperti ini
amat wajar sekali jika penduduk ikut digulung arus dominan.

Ali
kecil diasuh oleh
Rasulullah
sejak belia.
Asuhan beliau yang
tak pernah tunduk dengan arus dominan itu
, membuat Ali selamat dari gelombang
paganisme yang membanjiri Arab sejak bertahun-tahun lalu. Ia tak pernah
membungkuk atau meletakkan jidatnya di tanah dalam rangka sujud pada berhala.
Tidak sama sekali. Bahkan sejak sebelum akil balig.

Tapi
ia tidak sendirian yang selamat dari paganisme ini. Ada Abdullah bin Utsman
yang kita kenal dengan nama Abu Bakar ash-Shiddiq. Dan sebenarnya
penyelamatannya dari paganisme lebih heroik daripada Sayyidina Ali, sebab ia
yang umurnya selisih dua tahun dengan Rasulullah itu beriman ketika Nai
memproklamirkan nubuwahnya. Jika nubuwah Rasullah di umur 40 tahun, itu artinya
Abu Bakar di umur yang matang yaitu 38 tahun. Melalui 38 tahun di lingkungan
pagan tanpa mengikuti arus itu jelas bukan upaya yang sederhana. Butuh pikiran
yang jernih dan upaya yang besar. Dan ia harus menjalaninya selama puluhan
tahun.

Karena
alasan inilah penghormatan karramallahu wajhah itu layak disandang
keduanya dan kita boleh mengucapkan pada keduanya. Hanya saja memang ucapan itu
kemudian paling banyak dan masyhur disematkan pada Ali bin Abi Thalib saja
sebab sejarawan dengan latar belakang apapun sepakat bahwa Ali diasuh oleh
Rasul sejak umur tamyiz dan tentu sudah Islam sejak dini. Dulu pijakan taklif
bukan pada akil balig tapi pada tamyiz, kemudian ketetapan ini dianulir dengan
menempatkan akil balig sebagai pijakan taklif.

Tentu
ada pertanyaan susulan lagi karena banyak di kalangan
sahabat
yang tak termakan arus paganisme juga seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu
Zubair dan lainnya, tapi kenapa hanya Abu Bakar dan Ali saja yang layak
mendapat karramallahu wajhah?

Tentu
beda. Nama-nama yang kita sebut terakhir ini masuk Islam setelah paganisme
tumbang. Setelah semua mapan. Tentu sangat beda dengan masa di mana kemusyrikan
bertebaran di mana-mana. Berbeda sikap dengan keluarga dan handai tolan bukan
hal yang mudah. Apalagi menyangkut kepercayaan. Makanya keduanya diberi
keistimewaan dengan doa penghormatan ini.

Gamaleya,
21 April 2021

Kontributor

  • Alfan Khumaidi

    Alumni Blokagung yang kini berdomisili di Mesir. Meminati kajian keislaman dan aktif di PCI NU Mesir.