Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Speak-speak Iblis kepada Orang yang Berilmu

Avatar photo
781
×

Speak-speak Iblis kepada Orang yang Berilmu

Share this article
Suasana talaqqi di Masjid Al-Azhar.
Suasana talaqqi di Masjid Al-Azhar.

Ulama salaf dahulu mengatakan, “Sedikitnya adab lebih kami butuhkan daripada banyaknya ilmu pengetahuan.”

“نحن إلى قليل من الأدب أحوج منا إلى كثير من العلم”

Iblis sering melepaskan jeratnya di dalam kalam salaf ini. Orang-orang yang malas belajar seakan-akan mendapatkan dalil dan pembenaran atas kebodohannya. Dia merasa bahwa dengan cukup memperbaiki adab. Dia akan bisa menyaingi dan bahkan melampaui orang berilmu, dan kemudian meninggalkan belajar.

Kalam ulama ini sebenarnya menyindir orang-orang yang terlalu berlebihan dalam memberikan porsi belajarnya sehingga lupa untuk membimbing dirinya agar berhias dengan akhlak yang mulia.

Adab dan ilmu itu harus bergandengan dan saling melengkapi. Jika ada salah satu yang hilang maka akan pincang. Adab itu sangat penting, jadi teruslah belajar dan perbaiki adab.

Merasa Alim lalu Malas Beribadah

Nabi Muhammad Saw. bersabda,

“فقيه واحد أشد على الشيطان من ألف عابد”

“Satu orang fakih itu lebih ditakutkan setan dari seribu ahli ibadah.”

Setan juga kerap melepaskan jeratnya di sini. Orang-orang yang merasa alim dan malas beribadah menjadikan ini sebagai pembenaran atas kemalasannya dalam beramal. Ketika ia sudah menguasai beberapa cabang ilmu, ia merasa sudah tidak lagi membutuhkan ibadah yang banyak. Dengan alasan ini, ia meninggalkan salat-salat sunnah rawatib, salat berjamaah di masjid, salat sunnah witir, wirid harian, membaca al-Quran, zikir pagi petang, dan lain-lain

Ini karena, ia merasa sudah lebih baik dari 1000 ahli ibadah.

Padahal hadis ini dijadikan cambuk penyemangat untuk orang-orang yang malas belajar. Juga menyindir orang-orang yang terlalu memberikan porsi waktunya untuk ibadah sehingga kewajiban belajarnya terbengkalai.

Amal Ibadah Ulama Salaf

Mari kita pahami hadis di atas dengan sikap para imam mazhab dahulu. Mereka inilah yang sudah sampai di puncak kefakihan. Kita menyebut sekelumit di antaranya. Ada Imam Syafi’i yang membagi malamnya menjadi tiga, satu di antaranya adalah untuk ibadah. Ada Imam Ahmad yang dahulu menghidupkan setiap malamnya dengan 300 rakaat. Dan ibadah-ibadah para imam lain yang sangat menakjubkan.

Para pendahulu kita yang menjadi bintang-bintang umat dalam fikih dan ilmu tidak pernah tertipu dengan ilmunya sehingga meninggalkan ibadah kepada Allah Swt.

Ilmu dan amal ibadah itu bagaikan dua sayap yang menerbangkan pemiliknya menuju Allah Swt. Tidak boleh ada salah satu yang rapuh. Ilmu itu sangat penting, jadi teruslah belajar dan tingkatkan amal!.

Para ulama sering menasihati para penuntut ilmu untuk belajar satu persatu secara bertahap, perlahan tapi pasti, tidak tergesa gesa dan terus mengikuti dengan sabar peta ilmu yang sudah digariskan.

Setan lagi-lagi menebarkan muslihatnya di nasehat ini. Para penimba ilmu yang santai dalam belajar menjadikan ini sebagai dalil dan pembenaran untuk tetap santai.

Membiarkan waktu kosongnya berlalu tanpa faedah. Ketika dikatakan “kenapa tidak belajar?”, ia menjawab, “Belajar itu tidak boleh tergesa gesa.”

Padahal nasehat ini ditujukan kepada para talib yang terlalu berambisi dalam belajar sehingga menabrak tatanan belajar yang benar. Jadi, belajarlah dengan rapi dan teratur, jangan bersantai-santai.

Li kulli maqolin maqom. Setiap ucapan ada konteksnya sendiri-sendiri.

Kontributor

  • Amru Hamdany

    Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Asal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Suka mengkaji fikih.