Artikel

Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1445 H: Meraih maqom syukur pasca Ramadhan

10 Apr 2024 02:12 WIB
878
.
Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1445 H: Meraih maqom syukur pasca Ramadhan Mari kita tetap bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah Dia berikan.

KHUTBAH PERTAMA

السّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ,

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

 اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالـحَمْدُ للهِ كَثـِيْرًا، وَسُـبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا ، لَاإِلهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْـبُـدُ إِلًّا إِيَّاهُ، مُخْلِـصِـيْنَ لَهُ الـدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ. لَاإلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ ، صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَـرَ عَبْدَهُ ، َوأَعَـزَّ جُـنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْـدَهُ ، لَاإِلهَ إِلَّا اللهُ و اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ و للهِ الـحَمْدُ.

الـحَمْدُ للهِ اَّلذِيْ جَعَـلَ الأَعْيَادَ مُوْسِـمَ الخَيْرَاتِ , وَجَعَـلَ لَـنَا مَافِي الأَرْضِ جَـمِيْعًا لِـلعَمَّارَةِ  وَ زَرْعِ الحَسَنَاتِ.أَشْـهَـدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْـدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ خَالِـقُ الأَرْضِ وَ السَّمـوَاتِ، وَ أَشْهَدَ أَنَّ سَيِّدَنَامحمدًا عـَبْدُهُ وَ َرسُوْلُهُ الـدَّاعِي إِلَى دِيْـنِهِ بِأَوْضَحِ البَـيِّنَات  

الّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَـيِّدِنَا محمدٍ النَّبيِّ الـكَرِيْمِ وِعَلَى ألِهِ وَصَحْـبِهِ وَ التَّابِعِـيْنَ الـمُجْـتَهِـدِيْنَ لِـنُصْرَةِ الـدِّينِ وَ إِزَالَةِ الـمُنـكَرَاتِ ، أمّا بَعْدُ . فَـيَا أَيُّهَا الـمُسْلِـمُوْنَ أَسْعَدَكمُ اللهُ عِيْدَكُمْ!

أُوْصِـيكمُ وَ إِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَـقَدْ فاَزَ الـمُتَّـقُوْنَ، إِتَّـقُواااللَه حَقَّ تُـقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُـسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ وَ عِيْدٌ كَرِيْمٌ

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَ لِتُكْمِلُوْا العِدَّةَ وَ لِتُكَبِّرُوْا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّـكُمْ تَشْكُرُوْن

Jamaah sekalian kaum muslimin yang berbahagia!

Bulan Ramadhan yang telah meninggalkan kita dengan segala bentuk ibadah di dalamnya,  kemuliaan serta  kebaikan dan kebajikan yang terjadi di dalamnya adalah salah satu dari nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat Islam.

Berbahagialah kita bahwa Allah Swt menjadikan kita bagian dari umatnya Nabi Muhammad Saw yang dimuliakan dengan Ramadhan.

Selain sebagai bulan ibadah, Ramadhan adalah bulan kebahagiaan, bulan keceriaan, bulan dimana setiap detik di dalamnya menghantarkan kita pada kebaikan-kebaikan yang berlipat ganda.

Kita menyaksikan dan merasakan bersama, betapa Allah mempersiapkan Ramadhan menjadi bulan yang istimewa yang membawa kita pada nuansa kehidupan yang berbeda dengan bulan bulan lainnya.

Keistimewaan Ramadhan ini bukan hanya terletak pada berlipat gandanya ganjaran amal ibadah yang bersifat ukhrowi, di tengah berkahnya bulan Ramadan, suasana yang dihadirkan mampu mentransformasi hal-hal yang biasanya terkesan duniawi menjadi semangat yang lebih berorientasi pada kehidupan ukhrowi.  Atmosfer Ramadan telah mendorong fokus  umat Islam untuk menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai landasan utama dalam setiap tindakan dan pikiran mereka.

Meskipun Ramadhan adalah bulan umat muslim, namun maknanya telah melampaui batas agama dan menjadi bagian dari sebuah periode kebaikan yang diterima oleh masyarakat  secara luas.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Kita menyaksikan beragam budaya dan tradisi dalam memeriahkan hadirnya Ramadhan. Kita mengenal tradisi Nyorog di Betawi, Nyadran di Yogyakarta, Munggahan di Sunda, silaturahmi dengan berbuka bersama, pesantren kilat, Bazar Ramadhan, berburu takjil, mudik lebaran, berbagi dengan zakat, tradisi angpao dan semua kebaikan Ramadhan lainnya yang ada di sekeliling kita.

Hadirin sekalian!

Ramadhan bulan keberkahan, Ramadhan bulan perubahan….

Selama bulan Ramadhan yang baru saja berlalu, orang-orang semakin semangat untuk berbuat baik dan melakukan ibadah. Kaki-kaki yang biasanya hanya menyentuh lantai masjid seminggu sekali, pada bulan Ramadhan banyak yang dengan ringannya mengayunkan kakinya  setiap hari ke masjid atau musholla. Orang-orang yang biasanya jarang membaca Al-Qur'an, sekarang bisa membacanya dengan lebih banyak, bahkan sampai selesai beberapa kali.

Semangat untuk memberi kepada yang membutuhkan meningkat.  Bahkan para artis yang di luar Ramadhan biasa terbuka auratnya, pada bulan ini merasa malu dan berusaha untuk menutup auratnya.

Ramadhan bukan hanya telah menjadi perisai dari kemaksiatan dan rem dari kehidupan dunia, namun ia telah menguatkan kebersamaan kita, memantapkan toleransi antar sesama, meningkatkan gairah ekonomi di sekitar kita dan berbagi kebaikan lainnya.

Lalu, nikmat mana lagi yang kita sangkal dari kemurahan Allah di Ramadhan?

Kebaikan apa lagi yang kita dustakan dari besarnya kebahagian yang telah dihadirkan Allah bersama Ramadhan?

Allah Swt berfirman:

 

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah wahai Nabi Muhammad kepada manusia "Dengan karunia Allah  dan kemudahan-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat Allah itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan berupa harta dan kemewahan duniawi." (QS. Yunus 58).

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin sekalian!

Ramadhan bisa diibaratkan seperti hujan yang turun di tengah-tengah kekeringan. Ketika hujan datang, tanah yang kering menjadi subur, tumbuhan yang layu menjadi segar kembali, dan udara yang panas menjadi sejuk. Begitu pula dengan Ramadhan, saat bulan suci itu tiba, hati yang kering oleh dosa menjadi basah oleh rahmat Allah, keimanan yang layu kembali berkembang, dan jiwa yang terpanggang oleh godaan dunia menjadi tenteram dengan kedekatan kepada-Nya. Ramadhan adalah saat di mana kita merasakan kehadiran dan kemurahan Allah dengan lebih kuat, dan melalui ibadah, puasa, dan kebaikan, kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Meskipun kita mungkin merasa bahwa ibadah kita selama Ramadhan belum mencapai kesempurnaan yang diharapkan, namun mari kita tetap bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah Dia berikan; Nikmat ditakdirkan Allah untuk melaksanakan puasa, melaksanakan shalat tarawih, membaca Al-Qur'an, dan melakukan ibadah lainnya adalah anugerah yang patut disyukuri, meskipun belum sempurna.

Dengan merasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, kita akan memperoleh kekuatan untuk terus berusaha menjadi hamba yang lebih baik di masa mendatang. Kita tidak boleh terjebak dalam rasa penyesalan atau keputusasaan, melainkan mari kita gunakan rasa syukur kita sebagai motivasi untuk terus berusaha meningkatkan kualitas ibadah kita di masa yang akan datang. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan Dia senantiasa menghargai usaha dan niat baik hamba-Nya yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Hadirin sekalian!

Tujuan puasa Ramadhan yang begitu popular kita sering pahami adalah meraih takwa, sebagaimana firman Allah Swt dalam menjelaskan tujuan puasa, ,لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ agar kalian orang beriman masuk pada derajat takwa. Sedangkan pada ayat selanjutnya Allah menjelaskan bahwa buah dari takwa adalah syukur. Allah berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Hendaklah kalian menyempurnakan bilangan hari dari Ramadhan dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah, 185)

Begitulah dua penutup pesan firman Allah yang memerintahkan kita berpuasa sekaligus memberi kabar gembira akan kesudahannya…

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin sekalian!

Ada hal penting yang perlu digarisbawahi, seringkali kita menganggap bahwa tujuan puasa adalah mencapai derajat takwa, padahal ada goal yang lebih tinggi dari derajat takwa yaitu derajat syukur. sebagaimana Allah berfirman pada ayat lainnya;

فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Maka bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya.”(QS. Ali Imran 123)

Maksud ayat tersebut, manusia diperintahkan untuk bertakwa agar memperoleh derajat orang-orang yang bersyukur. Atas dasar pemahaman terhadap teks ayat tersebut maka para ulama berpendapat bahwa derajat syukur lebih tinggi dibanding takwa.

Rasa Syukur yang menyebabkan seseorang akan menjalani ibadah dengan kerelaan dan senang hati. Rasa Syukur yang menyebabkan seseorang begitu bergembira menyambut setiap panggilan dan kewajiban dari zat yang Maha Tinggi. Ketika sudah sampai pada maqam Syukur, maka seorang hamba tidak lagi merasa berat akan perintah, tidak lagi beribadah secara transaksional , ia akan melaksanakan ibadah dengan landasan cinta. Seperti ibadah dan amalnya para arifin.

Lalu apa makna syukur itu sendiri? Banyak pengertian dari syukur menurut para ulama. Menurut Imam Al-Qushairi[1], syukur dalam pandangan ahli hakikat adalah pengakuan atas nikmat Allah, Zat pemberi nikmat, dengan jalan ketundukan.

  [2] الاِعْتِرَافُ بِنِعْمِةِ  المُنْعِمِ  عَلَى وَجْهِ الخُضُوْعِ

Sedangkan menurut Imam Al-Syibli[3], Syukur adalah melihat Yang Memberi Nikmat, bukan melihat Nikmat itu sendiri dan  Allah menyukai hamba-Nya yang menyaksikan nikmat-Nya, mengakui nikmat-Nya, dan memuji-Nya karena nikmat-Nya."  Tajul Arus

الشُكْرُ رُأْيَةُ المُنْعِمِ لَا رُؤْيَةَ النِّعْمِةِ... وَاللهُ يُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَشْهَدَ نِعمَهُ وَيَعْتَرِفَ بِهَا وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ بِهَا... [4]

Adapun menurut Prof. Quraish Shihab[5] Syukur adalah menerima yang sedikit tapi menganggapnya banyak dan memberi yang banyak tapi menganggapnya sedikit.[6]

Allah  memerintahkan manusia bersyukur dan melarang tindakan sebaliknya. Allah memerintahkan untuk menjadikan rasa syukur sebagai tujuan penciptaan dan perintah.

Allah  pun menjanjikan balasan yang sangat baik, menjadikannya sebagai penyebab ditambahkannya karunia, di samping sebagai penjaga dan pemelihara nikmat-Nya. Orang yang suka bersyukur diberikan nama sesuai dengan sifat Allah yaitu, Asy Syakur.

Hal yang demikian sudah membuktikan bahwa Allah mencintai dan mengutamakan orang-orang yang bersyukur. Akan tetapi, jumlah hamba-Nya yang bersyukur sangatlah sedikit , sebagaimana firmanya:

وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (QS. Saba 13).

Sedikitnya orang yang bersyukur di dunia ini menunjukan bahwa orang-orang yang bersyukur merupakan orang-orang yang istimewa di mata Allah SWT.

 

Hadirin sekalian!!

Dalam konteks Ramadhan, syukur termanifestasi dalam berbagai hal:

Pertama, kita bersyukur atas kesempatan menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, termasuk puasa, shalat tarawih, membaca Al-Qur'an, dan ibadah lainnya meskipun masih banyak kekurangan. Sebab ditakdirkan untuk berbuat kebaikan adalah kebaikan itu sendiri.  Imam Ibnu Athaillah Al-Sakandari[7] dalam Hikamnya mengatakan

كَفَى مِنْ جَزَائِهِ اِيّاكَ عَلَى الطّاعَةِ اَنَ رَضِيَكَ لَهَا اَهْلًا[8]

Cukuplah engkau mendapatkan karunia Allah ketika Dia memperkenankanmu untuk dapat menjalankan ketaatan kepada-Nya.

Kedua, bersyukur atas kebersamaan dan kebahagiaan yang dirasakan bersama umat Muslim di seluruh dunia selama bulan Ramadhan.

Ketiga, bersyukur atas berbagai tradisi dan budaya yang memeriahkan Ramadhan, seperti berbuka bersama, tarawih, itikaf, tadarus, dan berbagai kegiatan lainnya.

Keempat, bersyukur atas perubahan positif yang terjadi pada diri sendiri dan orang lain selama bulan Ramadhan, seperti peningkatan dalam ibadah, kebaikan, dan kedekatan dengan Allah.

Kelima, bersyukur atas peningkatan kebersamaan dan toleransi antar sesama yang terjadi di masyarakat selama bulan Ramadhan.

Keenam, bersyukur atas peningkatan gairah ekonomi yang terjadi di sekitar kita selama bulan Ramadhan, karena meningkatnya aktivitas ibadah dan kegiatan sosial.

Dengan merasakan dan menyadari nikmat-nikmat tersebut, kita diharapkan dapat melepas Ramadhan dengan penuh rasa Syukur. Syukur bukan hanya ungkapan lisan, tetapi juga sikap batin yang tercermin dalam ketundukan kepada Allah SWT dalam menjalankan penghambaan kepada-Nya.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin sekalian!

Kita tidak ingin mengecewakan Zat yang memberikan kita kebahagiaan dan kenikmatan di Ramadhan. Kita bersyukur atas segala anugerah yang diberikan-Nya selama bulan suci ini. Setiap doa yang kita panjatkan, setiap sedekah yang kita berikan, dan setiap ibadah yang kita lakukan adalah bentuk syukur kita atas karunia-Nya.

Kebaikan yang kita tanamkan selama bulan Ramadhan harus terus kita pelihara dan pertahankan setelah Ramadhan berlalu, sebagai wujud terima kasih kepada Allah atas segala rahmat-Nya. Jadilah hamba Allah yang baik, konsisten dalam beribadah dan berbuat kebaikan, tidak hanya selama Ramadhan, tetapi sepanjang tahun.

Jaga amanah dari Ramadhan dengan meningkatkan kualitas ibadah, menyebarkan kebaikan, dan menjaga akhlak yang mulia. Biarkan cahaya Ramadhan terus bersinar dalam setiap langkah hidup kita, menjadi sumber motivasi untuk terus berbuat kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan begitu, kita tidak hanya merayakan Ramadhan sebagai sebuah ritual tahunan, tetapi menjadikannya sebagai fondasi yang kokoh untuk transformasi diri secara keseluruhan. Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama, sebagai wujud nyata penghargaan kita atas kebaikan dan anugerah Ramadhan yang tiada tara. Bersyukurlah atas setiap kesempatan dan kebaikan yang diberikan Allah, dan jadikanlah sebagai dorongan untuk terus berusaha menjadi hamba yang taat dan bermanfaat di dunia ini.

Al-Syahid Syekh Muhammad Sa’eed Ramadhan Al-Buthy, seorang ulama Al-Azhar asal Damaskus Suriah berpesan:

Jangan bersedih atas perpisahan dengan Ramadhan, tetapi bersyukurlah kepada Allah karena Dia telah memberikanmu kesempatan.

Bergembiralah serta tinggikanlah Allah karena Dia telah menunjukkanmu untuk berpuasa dan mendirikan shalat.

Jangan mengucapkan selamat tinggal, tetapi ajaklah dia untuk bersamamu sepanjang tahun. Ramadhan bukan hanya bulan, tetapi gaya hidup dan awal perubahan.

 Jangan mengucapkan selamat tinggal, tetapi berikanlah dia ruang untuk hidup bersamamu dan hidupkanlah dia sepanjang tahun.

 Puasa tidak berakhir, Al-Quran tidak ditinggalkan, dan masjid tidak dibiarkan.

Sampai bertemu di Ramadhan berikutnya, mari kita tetap menjaga semangat untuk terus berbuat kebaikan, menyebarkan kasih sayang, dan menjadi teladan yang baik bagi sesama. Semoga Allah senantiasa memberkahi dan melindungi kita semua.

اعـوذ بالله من الـشيـطان الـرجـيـم بـسـم الله الـرحـمـن الـرحـيـم

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

بارك الله لي ولـكم في الـقرآن الـعـظـيم ونـفـعـني واياكم بـما فـيه مـن الآيات و الـذكر الحـكـيم اقـول قـولي هـذا واسـتـغـفـر الله لي ولـكم و لـوالـدي ولـوالـديـكم و لـسائر الـمسـلـمـين و الـمسـلـمات والـمؤمـنـين والـمـؤمـنات . فاسـتـغـفـروا انـه هو الـغـفـور الرحيم

KHUTBAH KEDUA

أللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ 

 اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

 فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ   قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ  

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ   اَللهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًاقَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَنَسْأَلُكَ  الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النّاس اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخُشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَااَللهُ يَااَللهُ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,

Kami memuji dan mensyukuri-Mu atas segala karunia dan rahmat yang Engkau limpahkan kepada kami. Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah memberikan kepada kami kesempatan yang berharga untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Ya Allah, kami berterima kasih kepada-Mu karena telah memberikan petunjuk kepada kami untuk melaksanakan puasa, shalat, dan amal ibadah lainnya selama bulan suci ini. Kami menyadari bahwa segala amal ibadah yang kami lakukan tidak akan sempurna tanpa bimbingan dan pertolongan dari-Mu.

Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kesalahan kami selama bulan Ramadhan. Berikanlah kami kekuatan untuk terus melanjutkan perjalanan spiritual kami setelah bulan Ramadhan berakhir. Jadikanlah amal ibadah yang kami lakukan di bulan suci ini sebagai bekal yang membawa kami menuju ridha-Mu.

Ya Allah, kami juga bersyukur atas kesempatan yang Engkau berikan kepada kami untuk merasakan nikmatnya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Semoga semua amal ibadah yang kami lakukan di malam itu diterima oleh-Mu dan menjadi bekal yang membawa kami menuju kebahagiaan di akhirat.

Ya Allah, kami mohon kepada-Mu agar Engkau terus memberkahi kami dengan kekuatan iman, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menjalankan segala perintah-Mu. Jadikanlah kami hamba yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Engkau berikan dan selalu taat kepada-Mu dalam segala hal.

Ya Allah, di pagi yang penuh berkah ini, kami mohon kepada-Mu agar Engkau terus melimpahkan rahmat dan ampunan kepada kami, keluarga kami, khususnya kedua orang tua kami, serta seluruh umat Islam di seluruh dunia. Jadikanlah hari ini sebagai awal yang baru bagi kami untuk menjadi hamba yang lebih baik dan lebih taat kepada-Mu.

Ya Allah, terimalah segala doa, amal ibadah, dan pengabdian kami selama bulan Ramadhan. Jadikanlah semua itu sebagai sarana yang membawa kami mendekat kepada-Mu dan mendapatkan ridha-Mu. Amin ya rabbal Alamin

 رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

جَعَلَناَ الله ُوَإِياَّكُمْ مِنَ العاَئِدِيْنَ وَالفَآئِزِيْنَ وَأَدْخَلَناَ وَاِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِباَدِهِ المُتَّقِيْنَ والشّاكِرِيْنَ و اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

والسّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
 



 

 

[1] Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad atau yang dijuluki dengan Abul Qasim al-Qusyairi (376-465H). Merupakan seorang ulama sufi asal Naisabur  pengarang dari kitab Risalah Qusyairiyah (sebuah kitab panduan lengkap dalam ilmu tasawuf) yang menegaskan bahwa tasawuf dan syariat haruslah berjalan beriringan, tidak boleh saling bertolak belakang.

[2] Abu Al-Qasim Abul Karim ibnu Hawazan Al-Qusyairi, Al-Risalah Al-Qusyairiyah, (Damaskus: Daar Al-Thaba: t.t) h. 282.

[3] Abu Bakar Dulaf ibnu Jasdar Asy-Syibly (247-334 H) atau dikenal dengan Imam Al-Syibli merupakan seorang ulama asal Turki yang berdakwah di Baghdad, Irak dan dikenal sebagai seorang sufi yang seringkali mengkritik pemerintahan pada era Abbasiyah

[4] Abu Al-Qasim Abul Karim ibnu Hawazan Al-Qusyairi, Al-Risalah Al-Qusyairiyah, (Damaskus: Daar Al-Thaba: t.t) h. 284.

[5] Muhammad Quraish Shihab (L. 1944 M), merupakan seorang ulama Al-Qur’an asal Sidrap Sulawesi Selatan dan merupakan pengarang Kitab Tafsir Al-Misbah.

[6]  Quraish Shihab, Yang Sering Terlupakan; Nikmat dan Syukur, Youtube Quraish Shihab https://youtu.be/ULc_xtMN7Cg?si=JyxSHnelaGT0c5-Z

[7] Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari atau Syekh Ibnu Athaillah (648-697 H) adalah seorang ulama sufi asal Aleksandria Mesir, pengarang kitab Al-Hikam Al-Athaiyyah

[8] Al-Hikam Al-Athaiyyah

Mabda Dzikara
Mabda Dzikara / 10 Artikel

Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang aktif menjadi dosen di IIQ Jakarta.

Baca Juga

Pilihan Editor

Saksikan Video Menarik Berikut: