Jika mau mencari teladan sebagai akademisi murni di masa lalu, maka figurnya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Seorang mujtahid yang lahir pada 164 H ini sepanjang karir intelektualnya hanya demi ilmu. Tak pernah tergiur untuk melibatkan diri pada bisnis, politik, dan kegaduhan aliran-aliran. Hidupnya hanya untuk hadis.

Abu Tsaur mendeskripsikan sosok Imam Ahmad dengan “rajul shaleh (orang shaleh) kota Bahdad”. Tak ada yang mendapat label “shaleh” secara mutawatir di masa itu selain Imam Ahmad bin Hanbal. Meski memang ada yang meragukan kualitas ijtihadnya seperti Imam Ibnu Jarir At-Thabari yang menandainya sebagai muhaddis (ahli hadis), tak lebih.  

Imam Ahmad sendiri tidak suka disebut selain muhaddis tapi Allah berkehendak lain. Fatwa-fatwanya dibukukan dari generasi ke generasi karena kuatnya figur beliau. Terbukti pengantar jenazahnya mencapai 800.000 orang; sebuah kejadian yang belum pernah terekam dalam Tarikh Baghdad. Kisah hidup dan perjuangannya mempertahankan prinsip menjadi buah bibir.

Berpetualang Mencari dan Mencatat Hadis

Masa muda Imam Ahmad dihabiskan untuk mendalami hadis dan ilmu terkait tanpa melupakan fikih. Ini bisa dilihat dari Musnad yang ditulisnya. Di sana ada hadis-hadis Hijaz, Syam, Kufah, Bashrah, Yaman dll.

Kitab Al-Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal

Semenjak 179-186 H, Imam Ahmad tidak keluar Baghdad dan mulazamah pada Husyaim bin Basyir bin Abi Khazim Al-Wasithi selama 4 tahun. Sesekali hadir majlis Abdurrahman bin Mahdi (seorang kawan As-Syafi’i yang minta jawaban hingga tertulis kitab Ar-Risalah) dan Abu Bakar bin Abbas.

Baca juga: Meneladani Keulamaan Imam Malik

Imam Ahmad bercerita bagaimana semangatnya mencari ilmu dan hadis. “Terkadang saya ingin keluar rumah pagi-pagi buta sebelum Subuh.” tata dia mengenang, “Tapi ibu menarik bajuku hingga azan berkumandang dan pagi menjelang.”

Tahun 186 H, Imam Ahmad mulai keluar Baghdad: ke Bashrah lima kali, ke Hijaz lima kali dan di sanalah dia berjumpa dengan Imam As-Syafi’i sembari sesekali bertemu di Baghdad. Beliau menunaikan haji lima kali di maan dua kali di antaranya berjalan kaki hingga tersesat berkali-kali.

Imam Ahmad Hidup Serba Pas-pasan

Dari semua negeri yang telah dikunjungi, hanya ada satu mimpinya yang tidak terwujud, yaitu negeri Rayy (kota kelahiran Imam Ar-Razi) untuk menemui Jarir bin Abdul Hamid. “Seandainya saya punya uang 90 dirham, saya akan pergi ke Rayy,” sesal Imam Ahmad.

Yang paling mengharukan adalah perjalanannya ke Yaman untuk menemui imam Abdurrazzaq As-Shan’ani. Sebenarnya di Makkah, Imam Ahmad sudah bertemu dengannya tapi demi menghormati ilmu dan ingin mendapatkan keutamaan rihlah hadis, dia berusaha mendatanginya di Yaman.

Padahal Imam Ahmad tak memiliki ongkos yang cukup untuk ke Yaman. Di pertengahan jalan, beliau terpaksa menjadi buruh karena kehabisan ongkos. Beliau sosok imam yang tak pernah gengsi bekerja apapun asalkan halal dan bermanfaat. Tatkala sudah sampai di Yaman, sang guru menawarkan uang dinar untuk menopang hidupnya di sana tapi beliau menolak.

Dua tahun beliau habiskan untuk mencatat hadis dari Abdurrazzaq As-Shan’ani; bertahan hidup pas-pasan. Akhirnya dia berhasil mencatat hadis-hadis tabi’in seperti Said bin Al-Musayyib dan Az-Zuhri yang belum dia dapatkan sebelumnya.

Sumber Penghidupan Imam Ahmad

Ibn Al-Jauzi dalam Al-Manaqib menyebutkan bahwa Imam Ahmad mewarisi sebuah rumah yang disewakan. Dari bayaran sewa inilah keluarganya hidup. Pekerjaan beliau dalam keadaan terdesak adalah mencari sisa panen di kebun atau sawah dengan ijin pemiliknya, menjadi buruh bayaran, atau menyalin naskah dan menjualnya.

Terkadang beliau meminjam uang pada seorang sahabat yang dianggap hartanya halal kemudian dikembalikan saat mampu. Saat dikembalikan, kawannya berucap, “Saya memberimu hutang dengan niat agar kamu tidak usah membayarkannya.” Imam Ahmad menjawab, “Demikian juga saya tatkala berhutang punya niat untuk membayarkannya”.

Sebuah kehidupan yang sangat sederhana. Saat Imam As-Syafi’i hendak meninggalkan tugasnya sebagai Qadhi di Najran-Yaman, beliau setengah memaksa muridnya, Imam Ahmad, agar menggantikan posisinya di sana. Tapi muridnya itu menolak karena melihat gaji pemerintah sebagai harta syubhat.

Bahkan terekam jawaban terakhirnya, seperti dikisahkan Ibn Al-Jauzi dalam Al-Manaqib, “Wahai guruku, Abu Abdillah (Asy-Syafi’i), jika engkau tetap memaksa, maka Guru tak akan melihat saya lagi.”

Jawaban bernada cukup keras ini terlontar pada orang yang sangat dicintai dan dihormatinya, yakni Imam Asy-Syafi’i.

Min al-Mihbarah Ila al-Maqbarah

Imam Ahmad termasuk seorang hafiz yang tidak hanya bergantung pada hafalannya. Beliau mencatat semua hadis yang dihafal dalam buku catatannya. Ada seorang dari Marw (salah satu kota di Turkmenistan sekarang)  bertanya sebuah hadis yang kebetulan tak ada dalam buku yang ada di hadapannya. Beliau memerintah anaknya, Shaleh, agar mencarinya tapi tidak mendapatkan. Akhirnya Imam Ahmad mengambil sendiri catatannya yang berjilid-jilid.

Putranya, Abdullah, bersaksi, “Saya tak pernah melihat ayah menyampaikan hadis tanpa melihat buku. Hanya sekitar 100 hadis saja yang diriwayatkan dengan mengandalkan hafalannya.” Semua ini menunjukkan kehati-hatiannya.

Semangat ini tak pernah padam dalam diri imam Ahmad bahkan saat sang imam sudah menginjak usia lanjut, mempunyai reputasi di kalangan ulama. Sehingga ada yang bertanya, “Kenapa hingga usia ini, anda masih mencatat?”

Imam Ahmad menjawab, “Ma’al mihbarah ila al-maqbarah (selalu bersama pena hingga menuju liang kubur).”

Pakar Hadis Tidak Rasionalis?

Dengan semua fokusnya pada ilmu hadis, apakah Imam Ahmad tidak meluangkan sedikit rasionalitas dalam fikih? Ada sementara anggapan bahwa Imam Ahmad dan fikih Hanbali kurang rasional.

Sebenarnya di masa mudanya, Imam Ahmad berguru pada Imam Abu Yusuf (seorang murid Imam Abu Hanifah). Sebagaimana nantinya berguru pada Imam As-Syafi’i, yang dianggap sebagai guru favoritnya, bahkan setiap selesai shalat imam Ahmad selalu mendoakan gurunya ini. Hanya memang perhatiannya pada hadis jauh lebih dominan, seperti diakui oleh muridnya, Al-Khallal.

Imam As-Syafi’i sendiri pernah memuji Imam Ahmad, seperti dikutip Muhammad bin As-Shabbah (murid As-Syafi’i), “Saya tak melihat orang yang lebih berakal dari Ahmad bin Hanbal dan Sulaiman bin Daud Al-Hasyimi.”

Abu Hanifah pernah berkata, “Seorang pencari hadis yang tidak memahami isinya (fikih hadis) sama dengan seorang apoteker yang mengumpulkan obat tapi tak mengerti fungsi obatnya.” Ini disadari oleh Imam Ahmad sejak dini. Apalagi didukung oleh kecerdasannya. Semua fakta ini menolak anggapan bahwa Imam Ahmad bukan seorang rasionalis.

Baca juga: Kewiraian Imam Abu Hanifah dan Pilihan Politik Kontroversial

Imam Ahmad Seorang yang Ittiba’ Pada Rasulullah Saw.

Imam Ahmad tidak mengajar kecuali di umur 40. Beberapa teori menyebut karena menghormati guru-gurunya yang masih hidup: Abdurrazzaq bin Hammam As-Shan’ani dan Imam Asy-Syafi’i.

Tapi menurut Abu Zahrah, alasannya karena beliau memang terkenal meniru semua perbuatan Nabi Saw. Bahkan saat bekam dia memberi tukang bekam 1 dinar sebab ada riwayat Nabi memberi Abu Tibah (tukang bekam) dengan 1 dinar. Dia juga melakukan tasarri (mengoleksi budak wanita) yang sebenarnya tidak disukai, setelah mendapat izin istrinya. Ada juga riwayat bahwa beliau tidak berkenan makan semangka karena belum menemukan riwayat hadis yang menyebutkan caranya.

Semua dilakukan dalam rangka meniru jejak Rasulullah, maka bisa dipastikan bahwa keputusannya mengajar dan memberi fatwa di umur 40 karena alasan itu.

Majlis Imam Ahmad

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa yang menghadiri majlis Imam Ahmad mencapai 5 ribu orang di mana 500 orang di antaranya benar-benar mencatat. Tak semua yang hadir memang mencatat hadis, banyak yang hadir hanya mencari berkah dan mendengar nasehatnya atau melihat perilaku dan akhlaknya.   

Kisah hidup Imam Ahmad bin Hanbal pernah difilmkan dalam serial Al-Imam.

Majlisnya ada dua: di rumah yang diikuti 500 orang, dan di masjid yang diikui sekitar 5 ribu orang setiap selesai shalat Ashar, sebagaimana disebutkan Az-Zahabi dalam Tarikhnya. Majlis di rumahnya selalu dihadiri oleh putra-putranya, sehingga semua putranya menjadi ulama. Ini harus diperhatikan oleh semua tokoh dan kyai bahwa ilmu tidak bisa diwariskan tapi harus menempuh jalur yang sudah dijalani para ulama.

Baca juga: Imam Asy-Syafi’i, Ulama Asuhan Dua Mazhab Fikih

Melarang Mencatat Selain Hadis

Majlisnya sangat khusuk dan khidmat tanpa ada canda selayaknya majlis para muhaddisin. Beliau juga memarahi siapapun yang menulis selain hadis, bahkan termasuk ucapan dan fatwanya sendiri. Semua ini menunjukkan sikap rendah hatinya. Selain mencari aman sebab beliau hidup di masa tarik ulur mazhab-mazhab Islam yang saling berebut kuasa.

Namun semua larangan itu tak digubris karena kekuatan karakter dan kefigurannya yang mempesona. Apalagi setelah menyaksikan betapa kukuhnya Imam Ahmad memegang prinsip tatkala menghadapi tragedi Al-Qur’an makhluk.

Mazhab Hanbali

Pintu masuk makam Imam Ahmad bin Hanbal

Meski Imam Ahmad pernah marah saat melihat salah seorang muridnya mendokumentasikan pendapat dan fatwa-fatwanya, tapi kisah hidup, patriotisme dan keteguhannya pada prinsip yang diyakini tak sanggup menghalangi para murid dan pengagumnya untuk mengkaji dan mengembangkan pemikirannya.

Selebihnya tentu dipengaruhi oleh rasa simpati atas cobaan dan ujian yang dialami oleh sang Imam. Ini yang kemudian menggumpal menjadi fanatisme—dalam pengertian positif. Para murid generasi pertama seperti Al-Khallal dan Abu Thalib Al-Misykati dll mulai menguraikan mazhab gurunya. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh murid generasi kedua dan ketiga hingga membentuk sebuah bangunan mazhab yang layak diikuti.

Cuma mazhab Imam Ahmad memang tidak mendapat banyak pengikut karena mazhab paling akhir yang muncul dalam tradisi fikih Sunni. Penduduk negeri-negeri Islam sudah bermazhab dengan Hanafi, Maliki atau Syafi’i yang datang lebih awal. Bahkan di Irak sendiri, mazhab Hanbali pernah hampir punah sebelum kemudian Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani (561 H) memutuskan pindah dari mazhab Syafi’i ke mazhab Hanbali.

Imam Ahmad bin Hanbal wafat pada 241 H dan dimakamkan di kompleks Bab Harb di daerah Harbiyyah Baghdad.