Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Ibadah

Hukum Wanita Haid membaca Al-Quran Menurut Empat Mazhab

Avatar photo
15
×

Hukum Wanita Haid membaca Al-Quran Menurut Empat Mazhab

Share this article
Berbagai pandangan mazhab fikih mengenai wanita haid membaca al-Quran.
Berbagai pandangan mazhab fikih mengenai wanita haid membaca al-Quran.

Al-Quran adalah kalamullah yang agung dan suci, sehingga harus betul-betul di jaga dari hal-hal yang dapat menghinakannya, seperti dari tempat kotor, najis dan lain sebagainya.

Namun, permasalahan muncul pada wanita haid, karena ia sedang mengeluarkan darah kotor dari tubuhnya. Oleh sebab itu, bolehkah wanita yang sedang haid membaca Al-Quran, menurut pandangan empat madzhab?

Dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, juz 18, halaman 321-322, tentang hukum-hukum membaca Al-Quran bagi wanita haid menurut pandangan empat madzhab, sebagai berikut:

Pertama: Madzhab Hanafiyah 

ﻓﻤﺬﻫﺐ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﺣﺮﻣﺔ ﻗﺮاءﺗﻬﺎ ﻟﻠﻘﺮﺁﻥ ﻭﻟﻮ ﺩﻭﻥ ﺁﻳﺔ ﻣﻦ اﻟﻤﺮﻛﺒﺎﺕ ﻻ اﻟﻤﻔﺮﺩاﺕ، ﻭﺫﻟﻚ ﺇﺫا ﻗﺼﺪﺕ اﻝﻗﺮاءﺓ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﻘﺼﺪ اﻝﻗﺮاءﺓ ﺑﻞ ﻗﺼﺪﺕ اﻟﺜﻨﺎء ﺃﻭ اﻟﺬﻛﺮ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ

Artinya: Madzhab Hanafiyah: Haram hukumnya bagi wanita haid membaca Al-Quran, walaupun tidak sampai satu ayat dari lafadz yang tersusun bukan yang mufrad. Keharaman tersebut terjadi bila pembaca berniat qira’ah (membaca), sehingga bila hanya berniat dzikir atau memuji, maka hukumnya tidak masalah.

Kedua: Madzhab Syafi’iyah

ﻭﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﺣﺮﻣﺔ ﻗﺮاءﺓ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻠﺤﺎﺋﺾ ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺾ ﺁﻳﺔ، ﻛﺤﺮﻑ ﻟﻹﺧﻼﻝ ﺑﺎﻟﺘﻌﻈﻴﻢ ﺳﻮاء ﺃﻗﺼﺪﺕ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﺃﻡ ﻻ، ﻭﺻﺮﺣﻮا ﺑﺠﻮاﺯ ﺇﺟﺮاء اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻋﻠﻰ ﻗﻠﺒﻬﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﺤﺮﻳﻚ اﻟﻠﺴﺎﻥ، ﻭﺟﻮاﺯ اﻟﻨﻈﺮ ﻓﻲ اﻟﻤﺼﺤﻒ، ﻭﺇﻣﺮاﺭ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻓﻲ اﻟﻘﻠﺐ، ﻭﻛﺬا ﺗﺤﺮﻳﻚ ﻟﺴﺎﻧﻬﺎ ﻭﻫﻤﺴﻬﺎ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﺗﺴﻤﻊ ﻧﻔﺴﻬﺎ، ﻷﻧﻬﺎ ﻟﻴﺴﺖ ﺑﻗﺮاءﺓ ﻗﺮﺁﻥ

Artinya: Madzhab Syafi’iyah mengharamkan bagi wanita haid untuk membaca Al-Quran, walaupun separuh ayat, seperti satu huruf, sebab telah menghinakan kemuliaan Al-Quran. Diperbolehkan bagi wanita haid untuk membaca Al-Quran dalam hati, tanpa menggerakkan lisan atau mengerakkan lisan, tetapi tidak sampai terdengar telinga sendiri, karena semacam ini tidak disebut membaca Al-Quran. Begitu juga boleh baginya melihat mushaf.

Ketiga: Madzhab Hanabilah

ﻭﻣﺬﻫﺐ اﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﺃﻧﻪ ﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻗﺮاءﺓ ﺁﻳﺔ ﻓﺼﺎﻋﺪا، ﻭﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻗﺮاءﺓ ﺑﻌﺾ ﺁﻳﺔ، ﻷﻧﻪ ﻻ ﺇﻋﺠﺎﺯ ﻓﻴﻪ، ﻭﺫﻟﻚ ﻣﺎ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﻃﻮﻳﻠﺔ

Artinya: Madzhab Hanabilah: Haram bagi wanita haid untuk membaca satu ayat Al-Quran atau lebih, dan tidak haram apabila hanya sebagian ayat, karena sebagian ayat tersebut tidak bisa i’jaz (melemahkan) selama sebagian ayat tersebut tidak terlalu panjang.

Keempat: Madzhab Malikiyah

ﻭﺫﻫﺐ اﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ اﻟﺤﺎﺋﺾ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻬﺎ ﻗﺮاءﺓ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ اﺳﺘﺮﺳﺎﻝ اﻟﺪﻡ ﻣﻄﻠﻘﺎ، ﻛﺎﻧﺖ ﺟﻨﺒﺎ ﺃﻡ ﻻ، ﺧﺎﻓﺖ اﻟﻨﺴﻴﺎﻥ ﺃﻡ ﻻ. ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫا اﻧﻘﻄﻊ ﺣﻴﻀﻬﺎ، ﻓﻼ ﺗﺠﻮﺯ ﻟﻬﺎ اﻝﻗﺮاءﺓ ﺣﺘﻰ ﺗﻐﺘﺴﻞ ﺟﻨﺒﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻡ ﻻ، ﺇﻻ ﺃﻥ ﺗﺨﺎﻑ اﻟﻨﺴﻴﺎﻥ. ﻫﺬا ﻫﻮ اﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻋﻨﺪﻫﻢ، ﻷﻧﻬﺎ ﻗﺎﺩﺭﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﺘﻄﻬﺮ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻟﺤﺎﻟﺔ

 

Artinya: Madzhab Malikiyah: Bagi seorang wanita yang sedang mengeluarkan darah haid, hukumnya boleh membaca Al-Quran secara mutlak, baik wanita tersebut sedang junub atau tidak, takut hilang hafalannya atau tidak. Sedangkan bila darah telah berhenti. Namun, ia belum mandi, maka haram baginya membaca Al-Quran, karena ia mampu untuk bersuci dalam keadaan tidak keluar darah tersebut. Ini adalah pendapat yang muktamad dalam madzhab Malikiyah.

Kontributor

  • Ibrahim

    Santri Pondok Pesantren Al Hikmah Darussalam, Tepa'nah Barat, Durjan, Kokop, Bangkalan & pegiat Bahtsul Masail.