Scroll untuk baca artikel
Ramadhan kilatan
Pendaftaran Kampus Sanad
Artikel

Membangun Budaya Peduli Lingkungan di Pesantren Melalui Gerakan 3R

Avatar photo
124
×

Membangun Budaya Peduli Lingkungan di Pesantren Melalui Gerakan 3R

Share this article
Miss Recycle, lomba daur ulang sampah menjadi gaun perempuan diadakan pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido
Miss Recycle, lomba daur ulang sampah menjadi gaun perempuan diadakan pesantren Tahfizh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido

Bermanfaat bukan berarti tidak berani untuk memulai. Melainkan memberikan sumbangsi kepada sekitar agar terdampak dari kebermanfaat tersebut. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadikan kegiatan santri dalam penerapan jiwa kebebasan adalah dengan mulai beradaptasi dan mengembangkan potensi kesadaran dalam membangun ekosistem kebermanfaatan. Pesantren yang tidak terhitung jumlahnya di Indonesia, tidak sedikit dari pesantren-pesantren tersebut memberikan inovasi dan memberikan dampak besar dalam mewujudkan edukasi tentang pengelolaan sampah yang baik.

Hal ini tidak mungkin terjadi atau ide ini mulai muncul atas konsep yang dibuat secara murni. Akan tetapi kesadaran atas alam, kesadaran atas berbagai sumber yang telah Allah ciptakan kepada manusia, tidak lain adalah untuk memberikan konsekuensi kebermanfaatan agar keberlangsungan hidup mampu memahami esensi kebahagiaan. Berangkat dari proses pengelolaan sampah yang bergerak dalam ruang lingkup kecil, yaitu pesantren.

Bukan lagi soal bagaimana mewarnai pesantren dengan cibiran bahwa tidak pernah ada kemajuan dalam menyetarakan teknologi saat ini, mereka sedang beradaptasi dengan perubahan yang serba cepat. Sebagaimana diketahui bahwa istilah 3R dalam tulisan ini berangkat karena tidak sedikit pesantren menerapkan prinsip ini untuk dijadikan ajang keterampilan dan pengelolaan struktur berfikir dalam membangun eksistensi ramah lingkungan.

Berdasarkan data terlampir dan telah termanfaatkan bahwa pengelolaan sampah sudah ada dalam undang-undang. UU RI No 18 tentang pengelolaan sampah, di mana konsep pengelolaan sampah tidak berhenti pada paradigma lama, selaras dengan perubahan dan konsistensi zaman dalam berdapatasi bahwa paradigma ini harus terus terevitalisasi. Hal ini difokuskan kepada upaya penekanan volume sampah sejak dari sumbernya, sehingga tidak lagi menjamur dan harus diangkut ke TPA (tempat pembuangan akhir) jumlahnya menjadi sangat sedikit

Pesantren Tahfizh Al-Quran Daarul Uluum Lido telah membuktikan bahwa sampah bisa dikelola dengan baik dan dijadikan salah satu ajang dalam perlombaan. Meskipun sudah banyak pesantren yang menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) ini setidaknya perlu mengangkat kembali eksistensi dan dampak ini. Tentu tidak berhenti pada aspek pengelolaan, hal ini didasari pada sikap persuasif kepada masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan, menjaga alam agar tetap asri, meneguhkan kembali prinsip ekologi, ekosistem bumi tidak hanya berangkat dari alam yang harus mengatur semuanya. Melainkan tindakan manusia justru berpengaruh pada kesuburan pola pikir manusia dalam mengatur bumi agar tetap sehat.

Reduce: Sebagai disiplin dalam mengurangi jejak sampah yang mengular

salah satu komponen 3R adalah reduce. Prinsip ini menekankan bagaimana kita mampu mengurangi produksi limbah dengan mengurangi penggunaan barang-barang sekali pakai atau mengambil langkah-langkah untuk mengurangi konsumsi sumber daya alam. Hal ini mampu memberikan dampak dan mencakup pada praktik membeli produk dalam kemasan minimal, menggunakan energi lebih efisien, atau bahkan mengurangi beban dan terhindar dari pemborosan sumber daya.

Reuse: Menstrukturkan kembali penggunaan agar tetap berdampak pada “manfaat”

Komponen selanjutnya adalah reuse. Prinsip ini menumbuhkan kembali bagaimana kita bisa mengelola emosi kita, mengelola cara berpikir kita agar ekosistem alam selalu pada prinsipnya. Komponen ini secara terminologi mengarah pada menggunakan kembali barang-barang atau bahan-bahan yang masih dapat digunakan setelah pemakaian awalnya. Sesederhana dalam pengelolaan sampah plastik atau kertas menjadi sebuah busana untuk diajukan menjadi ajang perlombaan. Mendaur ulang botol plastik menjadi pot tanaman, bahkan dikelola kembali agar menjadi sumber daya baru untuk dipasarkan.

Recycle: Dampak nyata sebagai solusi inovasi yang berkelanjutan

Memanfaatkan kembali bagaimana pengelolaan sampah menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mengawali perubahan yang serba cepat. Meskipun teknologi tidak sedikit menghiraukan dalam inovasi secara berkala, akan tetapi teknologi justru membuka ruang kesempatan untuk menyelami inovasi agar manusia pada akhirnya memunculkan potensi untuk meluapkan ide-ide kreatif yang bermanfaat. Secara istilah bahwa recycle ini secara sederhana bahwa kita berusaha untuk memanfaatkan sampah agar dapat didaur ulang.

Prinsip inilah yang kemudian mengawali bagaimana kita sebagai manusia mampu memperhatikan apa saja yang ada disekitar kita. mulai dari kesadaran tentang kontribusi manfaat yang nyata. Persoalannya bukan lagi tentang bagaimana, akan tetapi sejauh mana kita menyadari bahwa Allah sebenarnya sudah memusatkan manusia sebagai central figure dalam mengelola apapun yang ada di bumi ini. Setidaknya tujuan terciptanya manusia tidak salah arah karena terlalu pasif memaknai ayat firman-Nya, namun lebih kepada spektrum kesadaran dalam mengisi hati untuk bergerak dari sarat semua kandungan tanda-tanda-Nya.

Kontributor

  • Umar Kustiadi

    Mahasiswa Magister Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.