Dalam khazanah keilmuan Islam, tidak semua bulan memiliki kedudukan yang sama. Ada bulan-bulan yang Allah muliakan secara khusus, dan di antara yang paling istimewa adalah Muharram — bulan pertama dalam kalender Hijriah yang oleh Rasulullah Saw sendiri disebut dengan gelar yang luar biasa: Syahrullah, Bulan Allah.
Rasulullah Saw bersabda:
«أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ قِيَامُ اللَّيْلِ»
“Puasa paling utama setelah Ramadan adalah bulan Allah yang kalian sebut Muharram. Dan shalat paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”
(HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Hadis ini singkat namun sangat padat. Dalam satu sabda, Nabi Saw menetapkan dua puncak ibadah sunnah sekaligus: puasa Muharram sebagai raja puasa sunnah, dan qiyamul lail sebagai puncak shalat sunnah. Namun ada satu frasa dalam hadis ini yang selalu menarik perhatian para ulama dan layak untuk kita renungkan lebih dalam — yaitu frasa «شهر الله», Syahrullah.
Dalam bahasa Arab, ketika sebuah kata disandarkan (idhofah) kepada kata lain, ia mengambil sebagian dari “warna” dan “status” kata yang menjadi sandarannya. Maka ketika Nabi Saw menyebut Muharram sebagai Syahrullah — bukan sekadar al-Muharram — ini bukan sekadar variasi gaya bahasa. Ini adalah pernyataan teologis yang dalam.
Ibn Rajab al-Hanbali, salah satu ulama terbesar mazhab Hanbali yang dikenal sangat mendalam dalam ilmu hadis dan fiqh ibadah, menjelaskan hal ini secara gamblang dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif. Beliau menulis:
«وإضافته إلى الله تدل على شرفه وفضله، فإن الله تعالى لا يضيف إليه إلا خواص مخلوقاته، كما نسب محمداً وإبراهيم وإسحاق ويعقوب وغيرهم من الأنبياء إلى عبوديته، ونسب إليه بيته وناقته»
“Penyandarannya kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya. Sebab Allah tidaklah menyandarkan kepada diri-Nya kecuali yang terpilih dari makhluk-Nya — sebagaimana Ia menyandarkan para nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Ishaq, Ya’qub, dan selain mereka kepada penghambaan-Nya, serta menyandarkan kepada-Nya Baitullah dan unta (Nabi Shalih).”
Penjelasan Ibn Rajab ini membuka wawasan yang sangat penting: idhofah kepada Allah bukanlah hal yang sembarangan. Ia adalah mekanisme bahasa yang Allah gunakan — dan yang Nabi Saw gunakan atas bimbingan wahyu — untuk menandai sesuatu yang memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya. Jika kita menelusuri Al-Qur’an, pola ini berulang dengan konsisten. Allah menyebut بَيْتِي (Baiti — rumah-Ku) untuk merujuk Ka’bah dalam surah Al-Hajj ayat 26, menegaskan bahwa bangunan itu bukan milik suku Quraisy atau bangsa Arab, melainkan milik Allah dalam makna kehormatan dan kesucian. Allah menyebut نَاقَةَ اللهِ (Naqatullah — unta Allah) untuk merujuk unta yang dikirim sebagai mukjizat kepada kaum Tsamud melalui Nabi Shalih, sebagaimana dalam surah Al-A’raf ayat 73. Dan Allah menyebut para hamba terpilih-Nya dengan عِبَادِي (‘Ibadi — hamba-hamba-Ku) yang bermakna khusus, berbeda dengan sebutan umum untuk seluruh manusia. Setiap kali idhofah ini hadir, ia membawa pesan yang sama: ini bukan yang biasa. Ini yang Allah pilihkan untuk dinisbahkan kepada keagungan-Nya.
Maka ketika Muharram disebut Syahrullah, ia masuk dalam barisan yang sama dengan Ka’bah, dengan unta Nabi Shalih, dan dengan para nabi pilihan Allah. Sebuah kedudukan yang tidak diberikan kepada sembarang bulan, bahkan tidak kepada Rajab atau Sya’ban yang juga dikenal memiliki keistimewaan tersendiri. Dan ada hal lain yang menarik dalam redaksi hadis ini. Nabi Saw tidak langsung berkata “puasa paling utama adalah puasa Muharram.” Beliau berkata: “bulan Allah yang kalian sebut Muharram.” Frasa “yang kalian sebut” (الَّذِي تَدْعُونَهُ) mengandung isyarat halus bahwa nama Muharram adalah nama yang dikenal manusia, sementara nama hakikinya di sisi Allah adalah Syahrullah. Ini seperti seseorang yang memiliki nama resmi yang agung, namun dipanggil dengan nama panggilan sehari-hari oleh orang-orang di sekitarnya. Nabi Saw seolah mengingatkan: jangan hanya melihat nama kalender, lihat statusnya di sisi Allah.
Muharram bukan hanya istimewa secara spiritual, tetapi juga memiliki bobot historis yang sangat besar dalam perjalanan umat Islam. Ia adalah salah satu dari empat bulan haram yang Allah tetapkan sejak zaman Nabi Ibrahim — bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab — sebagaimana ditegaskan dalam surah At-Taubah ayat 36: «إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا… مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ». Pada bulan-bulan ini, bahkan bangsa Arab Jahiliah pun menghentikan peperangan — sebuah pengakuan fitrah terhadap kesucian waktu yang Allah muliakan. Yang lebih menggetarkan secara historis adalah peristiwa 10 Muharram, hari Asyura. Ketika Nabi Saw tiba di Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, beliau bertanya tentang sebabnya. Mereka menjawab bahwa hari itu adalah hari Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Maka Nabi Saw bersabda: «نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ» — “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.” Beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa (HR. Bukhari). Peristiwa ini menegaskan bahwa Muharram adalah bulan di mana Allah menampakkan pertolongan-Nya kepada para nabi dan orang-orang beriman — bulan kemenangan tauhid atas kesombongan kekuasaan, bulan di mana lautan terbelah dan kebenaran mengalahkan kebatilan.
Dengan memahami kerangka ini, anjuran berpuasa di bulan Muharram menjadi lebih bermakna. Ini bukan sekadar satu dari sekian amalan sunnah yang bisa dikerjakan atau ditinggalkan tanpa banyak pertimbangan. Ini adalah puasa yang paling utama setelah Ramadan — tafdhil (pemeringkatan) yang ditetapkan langsung oleh Nabi Saw. Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan puasa di bulan ini bersifat umum mencakup seluruh hari-hari Muharram, dengan puncaknya pada puasa Asyura (10 Muharram) yang dalam hadis lain disebutkan menghapus dosa setahun yang lalu. Namun semangat hadis ini mendorong kita untuk tidak hanya mengincar hari kesepuluh saja, melainkan menghidupkan seluruh bulan dengan puasa semampu kita.
Pada akhirnya, Syahrullah adalah sebuah kehormatan yang Allah tawarkan kepada kita. Bukan karena kita layak, tetapi karena Allah Maha Pemurah. Ia melipatgandakan nilai waktu agar hamba-hamba-Nya yang lemah bisa meraih kemuliaan yang besar dengan amal yang tidak seberapa. Maka berpuasa di Muharram bukan tentang seberapa kuat menahan lapar, tetapi tentang seberapa kita menghargai undangan Allah ketika Ia menyebut sebuah bulan dengan nama-Nya sendiri.









Please login to comment