Saya masih ingat bentuk kitab matan itu: tipis, kertasnya kekuningan, dan di beberapa halaman tinta makna Pegon saya sudah luntur kena keringat tangan. Kami mengkaji kitab itu di Pesantren, sering kali sambil menahan kantuk. Kiai mewedar makna gandul: kata demi kata, kalimat demi kalimat; dan kami menulis maknanya secara miring, bergantung di bawah baris-baris kata Arab, dengan rumus makna “م” menunjukkan Mubtada’ bermakna utawi, “خ” menunjukkan Khabar bermakna iku, dan seterusnya. Kitab itu bernama: “Ta’lim al-Muta’allim Ṭariq al-Ta’allum“.
Hampir semua santri di pesantren Nusantara pernah mengkajinya, biasanya di tahun-tahun awal mondok, karena kitab ini menjadi dasar landasan akhlak bagi para santri pemula.
Dari kitab matan tipis itu, kami belajar hal-hal yang kelak menjadi bekal yang sangat berharga bagi kehidupan. Tentang niat yang harus terus menerus ditata, Guru yang harus dihormati sepenuh jiwa, ilmu yang harus terus dijaga, serta betapa pentingnya akhlak dan etika bagi umat manusia.
Belakangan, saya baru sadar, bahwa ternyata kitab yang begitu masyhur di kalangan komunitas pesantren Nusantara ini, ternyata penulisnya berasal dari Zarnuj, sebuah kota di Ma Wara’ an-Nahr, negeri di seberang Sungai Jaihun atau Amu Darya. Sebagian besar wilayah itu hari ini kita kenal dengan nama: Uzbekistan.
Orang Zarnuj yang Tak Banyak Bercerita tentang Dirinya
Sering kali, kita lebih mengenal nama kitabnya “Ta’lim al-Muta’allim” daripada nama penulisnya. Memang banyak yang tidak tahu tentang Imam al-Zarnuji. Gelarnya Burhan al-Din, terkadang disebut dengan: Burhan al-Islam. Beliau seorang ulama ahli fiqih bermazhab Hanafi, yang hidup sekitar akhir abad ke-6 sampai awal abad ke-7 Hijriah. Kitab-kitab tarajim lebih banyak merekam siapa gurunya daripada kapan beliau dilahirkan. Dalam tradisi kehidupan ulama dulu, pengetahuan tentang siapa gurunya atau siapa muridnya memang jauh lebih penting daripada tanggal lahirnya.
Tentang asal-usulnya, Syekh Yaqut al-Ḥamawi dalam Mu’jam al-Buldan menyebut bahwa “Zarnuj” adalah kota yang dikenal di wilayah Ma Wara’ an-Nahr, selepas Khujand, dan berada di kawasan Turkistan. Penulis modern ada yang menempatkannya tak jauh dari Bukhara. Ḥaji Khalifah sampai merasa perlu menegaskan bahwa nisbatnya ditulis dengan huruf jim, al-Zarnuji, mengikuti Mu’jam al-Buldan, agar tidak disalahpahami sebagai Zaranj (زرنج), nama kawasan di wilayah Sijistan.
Guru Imam Zarnuji yang paling sering beliau sebut adalah Syaikh al-Islam Burhan al-Din ‘Ali ibn Abi Bakr al-Marghinani (w. 593 H/1197 M), penulis kitab “al-Hidayah”. Bagi orang-orang yang belajar fikih Hanafi, nama ini setara dengan nama-nama besar yang kita kenal di mazhab Syafi’i, seperti: Imam Nawawi, Imam Ghazali dlsb. Sumber lain juga menyebutkan bahwa Syekh Qaḍikhan dan Syekh Ḥammad ibn Ibrahim al-Ṣaffar termasuk di antara guru dari Imam Zarnuji. Ḥaji Khalifah, mengutip Syekh al-Taqi al-Ghazzi:
قال التقي في «طبقات الحنفية»: برهان الإسلام، من تلامذة صاحب «الهداية»، مصنف كتاب «تعليم المتعلم طريق التعلم»، وهو نفيس جدًّا.
“Syekh Al-Taqi berkata dalam Ṭabaqat al-Ḥanafiyyah: Burhan al-Islam (Imam Zarnuji), merupakan salah satu murid penulis kitab al-Hidayah (Imam Burhanuddin al-Marghinani). Dan ia adalah penulis kitab ‘Ta’lim al-Muta’allim Ṭariq al-Ta’allum’. Kitab itu sangat berharga.” (Kashf al-Ẓunun)
Tentang akhir hayatnya, kita juga hanya bisa meraba. Beberapa ensiklopedia modern menyebut Imam Zarnuji wafat di Bukhara, kota tempat guru-guru dan para pendahulunya mengajar. Tahunnya pun berselisih. Ada yang menulis 591 H, ada yang 593 H atau 597 H, ada pula yang menyebut sekitar 610 H atau 620 H (1223 M). Semuanya tanpa dalil yang benar-benar kokoh. Sampai hari ini belum ada makam yang bisa dipastikan sebagai pusaranya.
Beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Bukhara asy-Syarifah, saya membayangkan Imam Zarnuji —yang memang lebih suka memendam dirinya di bumi Khumul— jasad beliau terbaring di salah satu sudut kota kuno Bukhara, tanpa batu nisan bernama, tanpa kubah dan tanpa peziarah. Barangkali itu justru yang beliau inginkan. Makamnya boleh tidak dikenal, terpendam dalam-dalam di bumi khumul— keterasingan. Tetapi karya yang beliau tulis begitu masyhur, jauh lebih terkenal daripada namanya, apalagi lokasi makamnya. Hal ini memberikan pelajaran tentang: pohon amal —yang akarnya tertanam kuat terpendam di dalam bumi khumul— akan melahirkan buah yang sempurna, manis dan harum semerbak wanginya dimana-mana.
Saat kita membaca kitab “Ta’lim al-Muta’allim” secara pelan-pelan, sebenarnya kita sedang diajak Muallifnya berkunjung ke ruang-ruang kelas di Bukhara dan Samarkand tempo dulu, saat dimana Imam Zarnuji menghabiskan waktu untuk menuntut ilmu. Kita akan menemukan bahwa Imam Al-Zarnuji sering bercerita tentang guru-guru beliau di Bukhara dan Samarkand: kebiasaan mereka, nasihat mereka, bahkan kejadian-kejadian kecil di majelis ta’lim mereka. Mulai dari Syekh al-Marghinani, Syekh al-Ḥalwani, Syekh al-Sarakhsi, hingga Syekh Qaḍikhan.
Ta’lim al-Muta’allim: Mengapa Harus Dituliskan?
Imam Al-Zarnuji menjelaskan alasan penulisan Ta’lim al-Muta’allim di dalam mukaddimah Kitab:
فلما رأيت كثيرًا من طلاب العلم في زماننا يجِدّون إلى العلم ولا يصلون، ومن منافعه وثمراته—وهي العمل به والنشر—يُحرَمون، لما أنهم أخطؤوا طرائقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضلّ، ولا ينال المقصود قلّ أو جلّ، فأردت وأحببت أن أبيّن لهم طريق التعلم على ما رأيت في الكتب وسمعت من أساتذتي أولي العلم والحِكَم.
“Aku melihat banyak penuntut ilmu di zaman kami yang bersungguh-sungguh belajar tetapi tidak sampai (berhasil). Mereka juga tidak mendapat manfaat dan buahnya, yaitu mengamalkan dan menyebarkan ilmu. Hal ini disebabkan oleh karena mereka salah menempuh jalan dan meninggalkan syarat-syaratnya. Barang siapa yang salah jalan, maka ia akan tersesat dan tidak sampai ke tujuan, sedikit ataupun banyak. Karena hal itulah, aku ingin menjelaskan kepada mereka tentang bagaimana cara menuntut ilmu yang baik dan benar, sesuai dengan berbagai referensi yang kubaca dalam kitab-kitab dan kudengar dari guru-guruku yang berilmu dan penuh kebijaksanaan.”
Imam Zarnuji menyebut ṭariq, jalan atau cara. Menurut beliau, banyak orang gagal belajar karena salah cara atau jalannya, padahal kemampuannya cukup. Maka beliau pun menyusun tiga belas fasal: dari hakikat ilmu, niat, memilih ilmu, guru, dan teman, hingga soal wara’. Dari hal-hal yang menguatkan hafalan, hingga hal-hal yang mendatangkan rezeki.
Di tengah kitab itu ada bait yang dinisbatkan kepada Sayyidina ‘Ali. Bait inilah yang paling akrab di telinga para santri:
أَلَا لَا تَنَالُ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ ۞ سَأُنْبِيكَ عَنْ مَجْمُوعِهَا بِبَيَانِ
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ ۞ وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانِ
“Ingatlah, kau tak akan mendapat ilmu kecuali dengan enam perkara, akan kujelaskan semuanya: cerdas, bersemangat, sabar, punya bekal, dibimbing guru, dan waktu yang lama.”
Sedari kecil, tentu para santri Nusantara sudah akrab dan hafal dengan nadzoman “Alala” yang diviralkan oleh Imam Zarnuji di dalam Ta’lim al-Muta’allim ini. Nadzoman Alala kerap didendang-lalarkan di Madin-madin, TPQ-TPQ, sekolah-sekolah maupun pesantren-pesantren di Indonesia. Saat mondok dan mulai paham artinya, saya betul-betul merasakan betapa lengkapnya enam syarat keberhasilan mencari ilmu ini. Ada kemampuan, kemauan, daya tahan, kecukupan biaya, bimbingan guru, dan juga proses belajar yang harus lama.
Menyeberangi Samudera Hingga Sampai ke Pesantren Nusantara
Kitab Ta’lim al-Muta’allim tentu tidak bisa berjalan sendiri. Ia dibawa orang, disalin, disyarahi, kemudian dibawa lagi, dari satu daerah ke daerah yang lain. Dari Ma Wara’ an-Nahr, Kitab Ta’lim menyebar ke seluruh wilayah Hanafi sampai ke Turki Usmani. Di sana, Syekh Ibrahim ibn Isma’il menyelesaikan syarahnya atas Ta’lim al-Muta’allim pada tahun 996 H. Syarah inilah yang kemudian dicetak bersama matannya dan sampai sekarang paling banyak dipakai di berbagai pesantren Nusantara.
Jalur transmisi Kitab Ta’lim al-Muta’allim ke Nusantara kemungkinan besar melalui Haramain asy-Syarifain, tempat para pelajar Nusantara mengembara mencari ilmu, dan juga boleh jadi melewati jalur pelabuhan-pelabuhan di Samudra Hindia. Ada satu salinan Kitab “Ta’lim al-Muta’allim” dari Malabar, Kerala, yang selesai disalin pada 14 Muharram 1280 H (1863 M). Naskah itu sekarang tersimpan di arsip Arabia-Asia National University of Singapore. Ini hanya satu naskah, tetapi cukup menunjukkan bahwa Kitab Ta’lim pernah menjamah kawasan pesisir yang juga dilewati para pedagang dan ulama menuju kepulauan kita di Nusantara.
Di pesantren, kitab ini seolah menjadi makanan pokok yang harus dilahap oleh semua santri. Martin van Bruinessen bahkan menilai, di antara semua kitab kuning, barangkali Ta’lim al-Muta’allim lah yang paling kuat membentuk kebudayaan pesantren itu sendiri. Saya kira penilaian itu tidak berlebihan. Bait “Ala la tanalu al-‘ilma” dijadikan nadham “Alala” dengan terjemah Jawa Pegon, seringkali dilantunkan sebagai “lagu wajib” yang harus disenandungkan sebelum mengaji.
Kebiasaan memulai ngaji dan belajar pada hari Rabu pun, yang masih dijalankan di banyak pesantren, bersumber dari kitab ini:
وكان أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين رحمه الله يوقِّف بداية السبق على يوم الأربعاء، وكان يروي في ذلك حديثًا ويستدل به ويقول: قال رسول الله ﷺ: «ما من شيء بُدِئ يوم الأربعاء إلا وقد تمّ».
“Guru kami, Syaikh al-Islam Burhan al-Din al-Marghinani, biasa memulai pelajaran pada hari Rabu. Beliau meriwayatkan hadis tentang hal itu dan menjadikannya dalil: Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tidak ada sesuatu yang dimulai pada hari Rabu kecuali akan selesai dengan sempurna.'”
Para ahli hadis memang mempersoalkan sanad riwayat ini. Saya tidak hendak memperdebatkannya. Yang membuat saya tertegun justru hal ini: kebiasaan seorang guru di Marghinan, Lembah Ferghana —sekarang masuk Uzbekistan— delapan abad lalu, masih diikuti para santri di berbagai wilayah pelosok Nusantara sampai hari ini. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak tahu dari mana kebiasaan itu berasal.
Kitab Ulama Hanafi yang Dibaca oleh Masyarakat Bermadzhab Syafi’i
Ada hal yang unik dan menarik tentang kitab Ta’lim al-Muta’allim ini. Mayoritas muslim di Indonesia, bahkan Nusantara, menganut mazhab Imam Syafi’i dalam bidang fikih dan Imam Asy’ari dalam bidang akidah. Akan tetapi Kitab “Ta’lim al-Muta’allim” ditulis oleh seorang ulama penganut Madzhab Hanafi. Dan hampir semua ulama yang beliau kutip di dalam Ta’lim al-Muta’allim, selain para sahabat, adalah ulama Hanafi dari kawasan Ma Wara’ an-Nahr. Setahu saya, selama ini tidak ada seorang pun yang mempersoalkannya. Dan inilah wujud suatu rahmat dalam perbedaan ummat Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Adab dan etika merupakan persoalan universal. Apa pun mazhab dan alirannya, biasanya tidak ada lagi perbedaan pandangan jika sudah berbicara tentang moralitas. Hal ini sejalan dengan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW, yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Salah satu inti daripada adab itu adalah ta’ẓim, menghormati ilmu, para ahli ilmu, memuliakan orang tua dan juga guru:
اعلم بأن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله، وتعظيم الأستاذ وتوقيره. قال علي رضي الله عنه: أنا عبدُ مَن علّمني حرفًا واحدًا، إن شاء باع، وإن شاء أعتق، وإن شاء استرقّ.
“Ketahuilah, bahwa penuntut ilmu itu tidak akan mendapatkan ilmu dan tidak akan mendapatkan manfaatnya kecuali dengan memuliakan ilmu dan ahlinya, serta menghormati guru. Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah berkata: Aku ini adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf. Kalau ia mau, ia bisa menjualku, memerdekakanku, atau tetap menjadikanku sebagai seorang hamba.”
Dari nilai-nilai semacam inilah lahir tradisi tawadhu’ yang mengakar kuat di pesantren. Kita bisa melihatnya dari cara santri menunduk takzim saat kiai lewat, merapikan sandal guru, berkhidmah dengan tulus, hingga pantang meletakkan kitab di lantai demi menghormati ilmu. Orang luar mungkin menganggap tradisi ini berlebihan. Namun bagi kami, semua itu adalah pengejawantahan dari tingginya akhlak—suatu hal yang secara prioritas wajib didahulukan sebelum ilmu.
Tradisi keluhuran akhlak antara guru dan murid ini kemudian dikristalisasikan kembali oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim. Di banyak pesantren, karya ini dikaji berdampingan dengan kitab Ta’lim al-Muta’allim. Mbah Hasyim tidak sekadar menulis panduan moral biasa; kehadiran karya beliau menjadi pelengkap sempurna bagi kitab karya Imam al-Zarnuji, sekaligus semakin mengokohkan tradisi akhlak mulia dan ketawadhu’an di lingkungan pesantren.
Menemukan Kepingan Puzzle Ta’lim di Uzbekistan
Membuka kitab Ta’lim al-Muta’allim di Tashkent, Samarkand atau Bukhara rasanya seperti mengantarkan surat kembali ke alamat pengirimnya. Nama-nama yang dulu hanya kami eja di bawah temaram pelita pondok pesantren Nusantara, kini bisa kami lacak dan kunjungi lewat Google Maps. Marghinan kini bersalin nama menjadi Margilan. Sementara Bukhara tetap berdiri megah sebagai Qubbatul Islam—kota tempat Imam al-Bukhari dilahirkan, tempat Imam Baha’uddin Naqshabandi tumbuh hingga wafat, tempat Imam al-Halwani mengajar, dan, menurut sebagian peneliti, menjadi tempat Imam al-Zarnuji sendiri mengembuskan napas terakhirnya. Salah satu riwayat menarik di dalam kitab Ta’lim mengulas kisah Imam al-Halwani saat keluar dari Bukhara:
حُكي أن الشيخ الإمام الأجل شمس الأئمة الحلواني رحمه الله قد خرج من بخارى وسكن في بعض القرى أيامًا لحادثة وقعت له، وقد زاره تلامذته غير الشيخ الإمام القاضي أبي بكر الزرنجري، فقال له حين لقيه: لِمَ لَمْ تزرني؟ قال: كنت مشغولًا بخدمة الوالدة. قال: تُرزق العمر ولا تُرزق رونق الدرس.
“Diceritakan bahwa Syams al-A’immah Imam al-Ḥalwani pernah keluar dari Bukhara dan tinggal beberapa hari di sebuah desa karena suatu urusan. Murid-muridnya datang menjenguk, kecuali al-Qaḍi Abu Bakr al-Zaranjari. Ketika mereka bertemu, beliau bertanya, ‘Kenapa kau tidak mengunjungiku?’ Ia menjawab, ‘Saya sibuk merawat ibu.’ Beliau berkata, ‘Kau akan diberi umur panjang, tetapi tidak diberi semaraknya majelis ilmu…'”
Kisah ini tidak hendak menyalahkan siapa-siapa. Berbakti kepada ibu itu baik, setia kepada guru juga baik, dan masing-masing berbuah dengan caranya sendiri-sendiri.
Kepingan puzzle tentang perjalanan Imam al-Zarnuji dan kitab Ta’lim al-Muta’allim ini terasa kian utuh setelah saya mengalami sebuah momen di Uzbekistan. Di tengah sulitnya menemukan toko buku yang menjual kitab berbahasa Arab di negeri ini, saya justru mendapati kitab tersebut dipajang di berbagai sudut toko buku mulai dari Chorsu Bazar di Tashkent, Samarkand, hingga Bukhara. Menariknya, kitab tersebut dicetak dalam satu jilid bersama Naṣa’iḥ al-‘Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani—ulama besar Nusantara asal Banten yang mengajar di Makkah pada abad ke-19. Cukup lama saya terpaku di depan rak itu, membolak-balik halamannya dengan takjub. Dua kitab yang sejak dahulu familiar dikaji di pesantren, ternyata disatukan dalam satu jilid di tanah asalnya; sebuah pertemuan spiritual yang indah antara Ulama Ma Wara’ an-Nahr (Transoxiana) dan Ma Wara’ al-Bahr (Nusantara).
Kitab tersebut tidak sekadar dipajang dan diperjualbelikan. Sejak berabad-abad silam hingga hari ini, ia tetap hidup dan terus dikaji di madrasah-madrasah diniyah Uzbekistan, seperti Madrasah Kukeldash di Tashkent serta Madrasah Mir-i Arab di Bukhara. Di sana, para penuntut ilmu mendaras bait demi bait yang digubah oleh putra tanah kelahiran mereka sendiri, bersandingan dengan kitab yang lahir dari rahim bumi pertiwi kita. Pemikiran Syekh al-Zarnuji dan Syekh Nawawi al-Bantani melebur harmonis, dibaca dalam satu tarikan napas ngaji para santri.
Sejarah mencatat ada masa kelam ketika pengajaran agama di Uzbekistan dibatasi dengan sangat ketat, dan hanya segelintir madrasah yang diizinkan untuk tetap hidup. Namun pada tahun-tahun penuh tekanan itu, kitab Ta’lim al-Muta’allim justru menjadi kitab babon yang terus dibaca, dimaknai, dan diamalkan di ribuan pesantren pelosok Nusantara. Kini, roda zaman berputar dan kitab tersebut telah kembali pulang ke tanah kelahirannya—dikaji secara intensif serta ditempatkan sebagai rujukan utama dalam bidang akhlak. Pada akhirnya, sekat ribuan kilometer runtuh; menyisakan jembatan kokoh yang mengoneksikan antara Transoxiana dan Nusantara, yang sama-sama menempatkan mahakarya Imam al-Zarnuji ini sebagai kompas utama dalam membangun kemuliaan akhlak generasi penerusnya.
Kagem Imam Zarnuji, Syekh Nawawi dan para ulama yang disebut dalam tulisan ini, al Fatihah.
Tashkent, 02 Oktober 2026
Daftar Referensi
- Burhan al-Islam al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim.
- Ibrahim ibn Isma’il, Syarḥ Ta’lim al-Muta’allim.
- Muḥammad Nawawi al-Jawi al-Bantani, Naṣa’iḥ al-‘Ibad fi Bayan Alfaẓ Munabbihat ‘ala al-Isti’dad li Yawm al-Ma’ad.
- Ḥaji Khalifah (Katib Çelebi), Kashf al-Ẓunun ‘an Asami al-Kutub wa al-Funun.
- Taqi al-Din al-Ghazzi. al-Ṭabaqat al-Saniyyah fi Tarajim al-Ḥanafiyyah (dikutip melalui Kashf al-Ẓunun).
- Yaqut al-Ḥamawi. Mu’jam al-Buldan.
- Muḥammad Hasyim Asy’ari. Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim.
- M. Plessner & J. P. Berkey, “al-Zarnudji”, Encyclopaedia of Islam.
- Martin van Bruinessen, Kitab Kuning: Books in Arabic Script Used in the Pesantren Milieu.
- Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat.
- Arabia-Asia Archives, National University of Singapore. Kitab Ta’lim al-Muta’allim, MAC66/CM6 iv (salinan Kerala, 1280 H/1863 M).
- 12.Miftachul Huda dkk., Understanding Comprehensive Learning Requirements in the Light of al-Zarnuji’s Ta’lim al-Muta’allim, SAGE Open 6 (2016).















Please login to comment